Movie Review: Frankie and Alice (2010)


Frankie And Alice | Geoffrey Sax | Halle Berry & Stellan Skarsgard | Cinesavy 2010

Bagaimana rasanya mempunyai beberapa kepribadian sekaligus di dalam satu tubuh? Jawabannya ada di film Frankie and Alice yang diangkat dari kisah nyata tentang Francine Lucinda Murdoch atau Frankie (Halle Berry) yang mengidap Dissocative Identity Disorder (DID) atau kepribadian ganda.

Frankie adalah seorang kulit hitam yang berprofesi sebagai penari telanjang di sebuah Strip Club di Los Angeles. Secara fisik Frankie terlihat seksi dan sehat namun secara mental ternyata Frankie mengidap kepribadian ganda, Frankie sering mengisi teka – teki silang di koran dengan tulisan seperti anak kecil dan tiba – tiba bisa menjadi sesosok wanita anggun dan rasis bernama Alice. Frankie tidak pernah menyadari penyakit yang dideritanya sampai satu saat dia terjebak dalam sebuah insiden yang memaksanya bertemu dengan seorang psikiater bernama Dr. Oswald (Stellan Skarsgard). Penyakit yang diidap Frankie membuat Dr. Oz berempati dan ingin menyembuhkannya dengan cara merawat Frankie di rumah sakit jiwa tempat Ia bekerja. Selama masa perawatan ternyata banyak fakta yang ditemukan Dr. Oz tentang kepribadian lain yang ada dalam tubuh Frankie. Munculnya kepribadian lain dalam tubuh Frankie ternyata mengarah pada masa lalu Frankie yang kelam di Georgia saat Frankie masih remaja.

Frankie and Alice sepertinya adalah proyek idealis dari Halle Berry karena selain membintangi film ini, Berry juga menjadi salah satu produsernya. Film melodrama berdurasi 105 menit ini disutradarai oleh Geoffrey Sax, seorang sineas asal Inggris yang sebelumnya pernah menyutradarai film horror, White Noise (2005). Frankie and Alice sempat diputar di festival film Cannes mei tahun lalu dan dirilis secara terbatas di Amerika Serikat sejak akhir Desember lalu. Lewat aktingnya di film ini Halle Berry mampu meraih nominasi sebagai aktris drama terbaik di ajang Golden Globe Awards 2011 namun dikalahkan Natalie Portman lewat film Black Swan.

Geoffrey Sax berhasil menggarap Frankie and Alice ini menjadi sebuah tontonan yang berkualitas. Lewat film ini sepertinya Geoffrey Sax ingin menunjukkan kualitasnya dan menaikkan levelnya sebagai seorang sutradara dengan menangani aktris kaliber Oscar dan naskah yang berkelas. Dari segi cinematography film ini patut diacungi jempol karena mampu memberikan gambar – gambar yang manis, suram, mencekam, dan kegembiraan denga warna – warna dan komposisi yang pas. Art Director, segenap kru Wardrobe dan Make-Up juga patut diacungi jempol karena mampu memberikan suasana setting tahun 1950-an dan 1970-an dengan baik dan terlihat nyata didukung dengan properti yang retro dan old-school. Selain dari segi make up dan penataan artistik, ambience 50-an dan 70-an dikuatkan dengan iringan lagu – lagu bernuansa Blues dan Soul, dengan lagu tema seperti Whatever Will Be, Will Be (Que Sera, Sera), Bye Bye Love milik The Everly Brothers, hingga lagu – lagu Kool and The Gang, Marvin Gaye, dan Stevie Wonder yang memang popular di masanya. Sayangnya plot film ini yang sebenarnya sudah dibangun dengan sangat baik dari awal justru kehilangan taji di bagian klimaksnya, padahal seharusnya dari segi naskah bisa dimaksimalkan karena cerita aslinya sudah sangat bagus dan dikembangkan oleh 3 orang penulis dan naskahnya ditangani oleh 6 orang penulis.

Hal yang paling mencolok dari Frankie and Alice ini adalah tidak lain dan tidak bukan performa akting seorang Halle Berry yang pada tahun 2001 lalu diganjar piala Oscar kategori Best Actress in Leading Role di ajang penghargaan Academy Awards lewat film Monster’s Ball. Penampilan Halle Berry di Monster’s Ball memang sangat mengagumkan namun setelah itu Berry tidak pernah bermain dalam film – film yang mampu menguras kemampuannya sebagai aktris peraih Oscar justru malah bermain dalam film – film gagal seperti Gothika (2003) dan Catwoman (2004). Setelah 9 tahun akhirnya aktris berusia 44 tahun ini mampu memperlihatkan kualitas aktingnya kembali malalui film Frankie and Alice ini. Meskipun Monster’s Ball dan Fankie and Alice sama – sama bertema tentang rasisme namun peran yang dimainkan Halle Berry di Frankie and Alice jelas berbeda dan membutuhkan pendalaman yang hebat pada tiga karakter yang sekaligus dimainkan oleh Berry. Bayangkan dalam Frankie and Alice Halle Berry harus memerankan tokoh Frankie yang liar, Alice yang anggun, dan karakter seorang anak kecil berusia 7 tahun yang begitu jenius dengan skor IQ 156. Halle Berry mampu melahap tiga karakter tersebut dengan baik bahkan di awal – awal film saat Frankie bertransformasi menjadi Alice saya sempat merinding karena aktingnya begitu meyakinkan. Akting pemain pendukung lainnya seperti Stellan Skarsgård sebagai Dr. Oz dan Phylicia Rashad sebagai Edna Murdoch ibu dari Frankie yang protektif dan rapuh juga tidak bisa dianggap remeh karena mampu secara solid membangun emosi film ini.
Overall walaupun screenplay dan plot-nya kurang memuaskan tetapi Frankie and Alice mampu menghibur, memberi pelajaran tentang kesetaraan warna kulit, dan membuka mata kita akan adanya orang yang seperti Frankie dengan kisah hidup yang begitu mencengangkan.

Movie Score (3,5/5)

Frankie & Alice Official Trailer


©written by rioaditomo 230211

One thought on “Movie Review: Frankie and Alice (2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s