Movie Review: Beranak Dalam Kubur (1971)


Hanya Cover Ini Yang Bisa Saya Temukan, Thanks to jejakandromeda.wordpress.com

Disebuah desa bernama Ciganyar terdapat sebuah perkebunan yang menjadi sumber mata pencaharian warga setempat. Perkebunan tersebut adalah milik sebuah keluarga kaya raya yang terdiri dari seorang Bapak, Ibu, dan dua anak gadisnya, Dhora dan Lila. Dhora, sang kakak, adalah seorang gadis yang berhati kejam dan berwatak keras sedangkan Lila adalah gadis yang berhati lembut. Karena tidak pernah akur, kedua gadis itu akhirnya dipisahkan oleh sang Ayah. Lila dibawa ke kota untuk tinggal bersama dengan tantenya sedangkan Dhora tetap di perkebunan bersama Ayah dan Ibunya.

Tahun demi tahun berlalu, Dhora dan Lila sudah bertumbuh dewasa. Lila tumbuh menjadi wanita yang cantik rupawan dan bersuamikan seorang pria tampan dan gagah. Karena mendengar kabar bahwa ibu tirinya meninggal dunia dan karena sang suami akan pergi ke luar negeri, Lila akhirnya pulang ke Ciganyar. Dhora yang tumbuh menjadi wanita yang berdarah dingin ternyata sudah mempersiapkan rencana jahat untuk Lila setibanya di Ciganyar. Bukan hanya berencana jahat kepada Lila, Dhora juga ternyata sudah dengan tega membunuh ibunya sendiri dan membuat ayahnya menjadi lumpuh, juga menyengsarakan dan menindas warga Ciganyar.

Sepeninggalan suami Lila ke luar negeri, Dhora mulai menggencarkan rencana busuknya untuk menyingkirkan Lila. Dalam melancarkan tindak kejahatannya, Dhora selalu dibantu orang kepercayaanya, seorang lelaki misterius yang akrab dengan hewan – hewan buas seperti ular. Suatu hari Dhora mengajak Lila ke danau tempat mereka biasa bermain saat kecil. Alih – alih ingin mempersilakan Lila yang sedang hamil besar untuk duduk di sebuah batu di tepi danau, Dhora malah mendorong Lila hingga hampir tenggelam. Malam hari setelah kejadian itu Lila merasakan kontraksi namun ternyata Dhora tidak membantu Lila melahirkan tapi malah menyiram muka adik tirinya itu dengan air keras. Dhora menugasi bawahannya untuk mengubur Lila hidup – hidup namun ternyata bayi Lila justru lahir di dalam kuburan. Sejak saat itu daerah Ciganyar jadi angker karena penampakan hantu yang beranak dalam kubur. Apakah hantu Lila yang bergentayangan itu akan menuntut balas kepada Dhora? Apakah yang terjadi sebenarnya?

Ya, itulah penggalan kisah dari film Beranak Dalam Kubur. Sudah lama saya ingin menonton film Beranak Dalam Kubur tetapi baru pagi tadi berhasil menontonnya via youtube. Alasan saya ingin menonton Beranak Dalam Kubur itu cuma satu yakni ingin melihat akting dari aktris favorit saya sepanjang masa, Suzzanna. Film arahan sutradara Awaludin dan Ali Shahab ini adalah film produksi tahun 1971, dibintangi bintang – bintang film terkenal saat itu seperti Mieke Widjaja, Suzzanna, Ami Priyono, dan Dicky Suprapto (Cuma mereka yang akrab di telinga saya). Skenario film ini ditulis oleh seorang penulis terkenal, Sjumandjaja.

Saat mendengar judul Beranak Dalam Kubur pasti yang tersirat di dalam pikiran kita adalah sebuah film horror yang menyeramkan, terlebih karena kehadiran seorang Suzzanna yang notabene-nya adalah seorang Ratu Horror atau Scream Queen-nya Indonesia. Setelah menyaksikan secara seksama ternyata Beranak Dalam Kubur ini tidak pure horror karena dari segi penokohan dan adegan – adegan yang ditampilkan ada makna lain yang tersirat yang mungkin terkait dengan isu politik, ras, perbedaan derajat orang pribumi dan keturunan sisa – sisa feodalisme pada saat itu. Entah benar atau tidak tetapi rasanya ada unsur sindiran pada pemerintahan pada masa itu, ada ajakan bagi penontonnya untuk mau membuka mata dan berontak melawan pemerintahan yang menindas dan tidak manusiawi.

Diluar penilaian secara teknis, saya salut akan film ini karena memiliki twist di ending yang mencengangkan. Sejak awal saya memang hanya terpaku pada judulnya dan menebak – nebak endingnya seperti apa tetapi ternyata intepretasi saya salah. Yang saya perhatikan disini adalah akting seorang aktris kawakan, Mieke Widjaja, yang begitu menakutkan dan keji melebihi akting Suzzanna sendiri yang seharusnya tampil menyeramkan. Mieke Widjaja berhasil menghidupkan karakter Dhora yang licik, berhati busuk, dan jahat. Gestur dan ekspresinya sangat pas bahkan sepertinya saat itu Mieke Widjaja rela terlihat keling dan lusuh. Melihat tokoh Dhora disini mengingatkan saya pada tokoh ibu Dara di film Rumah Dara karena sama – sama berdarah dingin dengan ekspresi yang menakutkan juga ditambah model rambut Dhora dan Dara yang mirip. Tidak ada yang baru dari Suzzanna di film ini, aktingnya masih menjadi wanita baik – baik yang teraniaya dan cantik, dan masih menyeramkan saat memakai seragam ke-kunti-an-nya, tetapi selalu ada faktor lain dalam diri Suzzanna yang membuat beliau nampak memikat hati saya.

Dari segi teknis dan akting pemain lainnya memang standar perfilman pada saat itu tetapi yang saya kagum dari film – film horror Indonesia jaman dulu adalah hampir semua punya musik latar dan efek suara yang mampu membuat bulu kuduk berdiri. Dalam Beranak Dalam Kubur ini ada suara efek hujan, lolongan anjing, halilintar, bahkan sampai tetesan air keran yang mampu terdengar menakutkan apalagi mungkin saat ditonton malam hari. Penampakan Lila walaupun tidak banyak termasuk saat memaikan piano dan saat membuka pintu dengan tangannya yang busuk tetap memberi kengerian tersendiri. Satu adegan yang menyeramkan adalah saat bapak – bapak yang menolong Lila dari serangan ular harus rela mati ditengah terjangan banyak ular, sangat epik untuk ukuran film saat itu, bahkan mungkin sampai sekarang karena mana ada aktor yang mau bergumul dengan ular sebanyak itu.

Mungkin Beranak Dalam Kubur untuk saya dan teman – teman satu generasi hanya menghadirkan ketakutan saat menonton saja bahkan mungkin sama sekali tidak menakutkan. Tetapi bagi angkatan nenek saya dan orang tua saya yang menonton film ini di bioskop tahun 70-an dulu, Beranak Dalam Kubur sempat menjadi mimpi buruk bagi siapapun yang sudah menontonnya. Nenek saya mengaku sempat merasa ketakutan saat pulang dari bioskop dan sulit tidur usai menonton Beranak Dalam Kubur karena membayangkan adegan Dhora dan air keran wastafel.

Bagi saya Beranak Dalam Kubur adalah salah satu masterpiece dalam sejarah film horror nasional. Beranak Dalam Kubur bukan horror biasa, lebih dari sekedar horror yang menakut – nakuti, bukan horror yang mengandalkan adegan sex, klenik, dan mistis yang berlebihan. Beranak Dalam Kubur juga tidak ditambahkan adegan ustadz yang membuat setan terbakar dan berteriak, “Panaaaaaaa….s!!” di endingnya seperti kebanyakan film – film horror jadul lainnya. Menyesalah jika pencinta film belum menonton yang satu ini. Tapi sedikit saran jangan berkspektasi terlalu banyak dan posisikan diri anda sebagai penonton yang berada di tahun 70-an saat menonton film ini, karena kalau anda memposisikan diri sebagai penonton film masa kini niscaya film ini akan terlihat konyol.

Movie Score (4/5)

Tonton Filmnya DISINI uploaded by Chavenchen

©writtenbyrioaditomo030411

5 thoughts on “Movie Review: Beranak Dalam Kubur (1971)

  1. mau nanya dong..di film ini ada instrumen suara piano dan suara burung hantu gak?

    udah lupa di film suzanna yg mana ada instrumen itu..dan suaranya bener2 mistis..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s