Movie Review: Sucker Punch (2011)


Sucker Punch | Zack Synder | Emily Browning, Jena Malone, Vanessa Hudgens, Abbie Cornish, Jamie Chung, & Carla Gugino | Legendary Pictures | Warner Bros Pictures 2011

If you don’t stand for something, you will fall for anything.
The Wise Man

Masih begitu jelas dalam ingatan saya ketika tahun lalu melihat trailer Sucker Punch saat iseng browsing internet. Trailer Sucker Punch begitu memesona dan menghipnotis saya dengan sajian visual yang ajaib, tidak hanya visual efeknya tetapi jajaran pemainnya yang berpakaian mini dan seksi. Saya adalah salah satu dari sekian banyak pencinta film yang menyukai “heroine” (jagoan wanita) seperti di film Sucker Punch ini. Berbekal rasa penasaran yang begitu besar akhirnya saya menonton Sucker Punch yang telah dirilis akhir Maret lalu di Amerika Serikat.

Cerita dimulai dengan adegan slow motion yang amat sangat keren dipadu padankan dengan musik latar yang pas, menggambarkan tragedi yang terjadi di sebuah rumah di Vermont, Amerika Serikat tahun 1950-an. Pasca kematian ibunya, Baby Doll (Emily Browning) harus masuk ke sebuah rumah penampungan anak yatim – piatu dan orang sakit jiwa “Lennox House” karena dijebak oleh ayah tirinya. Anehnya dibalik tembok besar penampungan “Lennox House” itu terdapat sebuah klub yang mempertunjukkan aksi penari – penari erotis dibawah pelatihan Madam Vera Gorski (Carla Gugino) dengan tujuan menggalang dana bagi kelangsungan “Lennox House” dan boss-nya Blue Jones (Oscar Isaac). Baby akhirnya mulai menjalin persahabatan dengan penari – penari senior nan seksi, ada kakak beradik Rocket (Jena Malone) dan Sweet Pea (Abbie Cornish), Amber (Jamie Chung), dan Blondie (Vanessa Hudgens). Seiring waktu berjalan, Baby mendapat wangsit untuk mengumpulkan 4 buah benda dan 1 hal rahasia agar bisa meloloskan diri dari “Lennox House”.  Setelah mendapat wangsit dari The Wise Man (Scott Glenn) tersebut, Baby mengajak Rocket, Sweet Pea, Amber, dan Blondie untuk ikut membantunya mengumpulkan persyaratan agar bisa sama – sama melarikan diri dari tempat menyeramkan tersebut. Cerita berjalan mulai aneh setiap Baby berfantasi sebagai superhero bersama teman – temannya saat berusaha mendapatkan 4 benda berupa peta, korek api, pisau, dan kunci.

Jalan cerita yang aneh, skrip yang lemah, dan akting pemain yang datar membuat saya muak selama menonton Sucker Punch ini. Yang bisa saya nikmati di film ini hanyalah tata sinematografi, efek visual, koreografi laga, musik latar yang memang sangat luar biasa keren juga twist dan ending yang lumayan bagus. Sutradaranya, Zack Snyder, memang sudah paling khatam soal tampilan visual yang luar biasa lewat film – film terdahulunya 300 atau Watchmen tetapi sangat disayangkan cerita yang juga ditulisnya bersama Steve Shibuya sangat dangkal sekali.

Yang cukup mengejutkan dari film ini adalah kehadiran Mila Kunis eh bukan – bukan, Vanessa Hudgens, ya Vanessa yang masa SMA-nya jatuh cinta dengan pemain basket berponi Justin Bieber. Saya tidak menyangka Vanessa mampu berakting kick-ass sebagai Blondie yang seksi, liar, dan jago bela diri. Sepertinya peran Vanessa di Sucker Punch akan menjadi permulaan yang baik untuk karier Vanessa di dunia akting dan perfilman Hollywood sebagai aktris dewasa. Emily Browning yang awalnya saya pikir Dianna Agron dari serial Glee (Karena mirip) juga mampu memperlihatkan kualitas beradegan laga yang oke. Yang saja syukuri dari film ini adalah aktris – aktris favorit saya Emma Stone, Amanda Seyfried, dan Evan Rachel Wood mengundurkan diri dari proyek film ini, tidak terbayangkan kalau sampai mereka yang berdampingan dengan Vanessa Hudgens dan Abbie Cornish rasanya akan sangat memalukan dan menurunkan kualitas mereka sebagai aktris.

Meskipun sangat kecewa dengan filmnya tetapi secara keseluruhan Sucker Punch masih layak tonton karena ada adegan – adegan laga dan aksi dengan efek visual yang luar biasa megah dan mencengangkan. Selain secara visual, Original Soundtrack Sucker Punch menurut saya sangat wajib dikoleksi, berisikan lagu – lagu lama seperti lagu Annie Lennox – Sweet Dreams (Are Made of This) yang dibawakan ulang Emily Browning dan lagu lama milik Bjork – Army of Me yang dibuat versi khusus untuk Sucker Punch. Secara keseluruhan album soundtracknya lebih bagus dibanding filmnya. Oh iya kehadiran tante cantik, Carla Gugino di film dan soundtracknya bagi saya menjadi nilai tambah untuk film ini. Pesan saya kali ini adalah “Jangan Berekspektasi Terlalu Tinggi Saat Menonton Film!”.

Movie Score (2,5/5) | Original Soundtrack Score (5/5)

Sucker Punch Official Trailer:

2 thoughts on “Movie Review: Sucker Punch (2011)

  1. kemarin malam baru nonton film ini di cinemax… hahaha rasanya saya sangat setuju dengan semua yang anda tulis😉 nice review!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s