Movie Review: Make It Happen (2008)


Make It Happen | Darren Grant | Mary Elizabeth Winstead, John Reardon, & Ashley Roberts | Weinstein Company 2008

Ease off Carmen, She was killing it.
Brenda

Make It Happen adalah sebuah film bertema Dance-Flick yang rilis pada tahun 2008 lalu. Secara tidak sengaja saat kebingungan mau menyewa film apa di rental DVD akhirnya saya memilih film ini karena daya tarik sang pemeran utama Mary Elizabeth Winstead. Aktris muda Mary Elizabeth Winstead sudah mencuri perhatian saya lewat aktingnya di film Final Destination 3 (2006), Black Christmas (2006), Grindhouse: Deathproof (2007), dan terakhir sebagai Ramona yang edgy dalam Scott Pilgrim VS The World (2010). Saya cukup penasaran dengan akting Winstead di film Make It Happen ini karena saya belum pernah melihat si cantik ini berakting sambil menari. Seperti apakah jadinya?

Gleenwood, Indiana, adalah sebuah kota kecil di dataran Amerika Serikat, tidak ada sekolah tari dan berpopulasi sedikit. Lauryn (Mary Elizabeth Winstead) adalah gadis yang berasal dari Gleenwood dan ingin menimba ilmu di sekolah tari prestisius di Chicago. Berbekal tekad yang kuat meskipun tidak direstui kakaknya, Joel (John Reardon), Lauryn tetap pergi ke Chicago untuk mengikuti audisi di Chicago School of Music and Dance. Joel keberatan Lauryn pergi ke Chicago karena ingin Lauryn membantunya di bengkel peninggalan orang tua mereka yang sudah hampir bangkrut. Di Chicago ternyata Lauryn tidak lolos seleksi ke sekolah impiannya tersebut, naasnya mobil Lauryn harus di bawa oleh mobil derek karena parkir di sembarang tempat. Beruntunglah Lauryn karena bertemu dengan Dana (Tessa Thompson) seorang peramusaji yang baik hati dan mau menampung Lauryn di tempatnya. Untuk mendapatkan uang, Dana membantu Lauryn dengan memasukkan Lauryn bekerja di Burlesque Club tempat Dana biasa menari. Lauryn akhirnya di terima bekerja di club tersebut sebagai akunting, lama – kelamaan banyak yang melihat potensi Lauryn menari akhirnya Ia diberi kesempatan menjadi salah satu penari di Burlesque Club tersebut. Lalu bagaimana nasib kakak Lauryn dan bengkelnya? Bagaimana dengan cita – cita Lauryn untuk bersekolah tari di Chicago?

Mendengar premis yang ditawarkan Make It Happen rasanya tidak ada yang istimewa bahkan cenderung mirip dengan film – film tarian yang lain seperti Save The Last Dance, Coyote Ugly, atau mungkin yang masih segar di ingatan kita Burlesque. Penulis Make It Happen ini adalah orang – orang yang pernah sukses menulis Save The Last Dance dan Step Up tetapi formula cerita seperti film – film tersebut seharusnya sudah ditinggalkan karena akan terkesan klise dan itu – itu saja dan jatuhnya seperti film Make It Happen ini yang sangat so-so. Darren Grant selaku sutradara mampu dengan baik mengarahkan film dengan unsur tari dan musikal ini, wajar saya beliau sudah malang melintang menyutradarai video klip sejak tahun 1997 dan menangani video klip penyanyi – penyanyi R&B dan Hip – Hop.

Berlangsung selama 90 menit Make It Happen membuat saya agak bosan karena ceritanya sangat mudah ditebak dan penokohan karakter tidak ada yang kuat sama sekali apalagi ditambah dengan adegan – adegan cukup aneh termasuk Dana yang hanya sehari bekerja sebagai pramusaji, ataupun hubungan cinta Lauryn dengan sang music director, Russ, yang begitu cepat terjadi. Untung saja aksi tarian manis, seksi, dan enerjik dari Winstead dan kawan – kawan (termasuk Ashley Roberts, mantan anggota The Pussycat Dolls) mampu membuat mata betah apalagi diarahkan oleh orang yang berpengalaman dalam membuat video klip tampak dengan sangat baik divisualisasikan. Scene favorit saya adalah ketika Winstead menari dengan iringan lagu Beware of The Dog milik Jamelia, terkesan megah walaupun sebenarnya Make It Happen ini serba seadanya. Teknik tarian dan koreografi dalam Make It Happen ini memang tidak sedahsyat dancing in the rain scenen milik Step Up 2 atau semewah Burlesque, tetapi tetap asik dipandang. Winstead mampu menari dengan sangat baik dan auranya sangat keluar meskipun tidak ada yang istimewa dalam karakter Lauryn sendiri. Selain Jessica Alba atau Julia Stiles ternyata ada lagi aktris muda yang berhasil memerankan tokoh penari hip – hop dengan baik. Soal musik yang mengiringi memang terdengar tidak trendy seperti sekarang ini wajar saja karena ini film lama, tetapi kehadiran lagu Just Dance milik Lady Gaga mampu menarik perhatian.

Meskipun ceritanya cheesy, akting para pemain (kecuali Winstead) yang amat biasa, dan kekurangan disana – sini Make It Happen adalah tontonan segar untuk yang sedang mumet dan banyak pikiran. Ringan, menghibur, dan memanjakan mata dengan tarian – tarian seksinya. Secara keseluruhan saya rekomendasikan untuk anda yang sedang tidak ingin menonton film – film yang “berat”.

Movie Score (2,5/5)

©writtenbyrioaditomo090511

2 thoughts on “Movie Review: Make It Happen (2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s