Movie Review: The Perfect House (2011)


The Perfect House | Affandi Abdul Rachman | Bella Esperance, Cathy Sharon. & Endy Arfian | 2011 VL-Productions

..Anda tidak kenal dengan cucu saya ‘nak Julie..”
Bella Esperance, Madame Rita-

Sial bagi Julie Weiland (Cathy Sharon) yang rencana cutinya harus tertunda karena Lulu (Joy Revfa), rekan kerjanya, tiba – tiba dikabarkan menghilang dan mangkir dari tanggung jawabnya mengajar di sebuah rumah di kawasan Puncak. Adalah Madame Rita (Bella Esperance) yang meminta pihak agensi untuk segera mengganti Lulu dengan guru baru untuk mengajar cucu kesayangannya, Januar (Endy Arfian). Awalnya Julie sempat menolak permintaan atasannya untuk menggantikan Lulu karena ingin rehat sejenak dari pekerjaannya tetapi begitu mendengarkan alasan Madame Rita bahwa Januar telah kehilangan kedua orang tuanya akhirnya Julie luluh juga. Latar belakang kehidupan Julie yang juga telah menjadi anak yatim piatu membuatnya tergerak untuk membantu Januar dan menyetujui untuk tinggal di rumah Madame Rita sampai tugasnya selesai.

Madame Rita tinggal di sebuah rumah yang lokasinya terpencil di daerah Puncak bersama cucunya Januar dan tukang kebun yang bernama Yadi (Mike Lucock). Tidak ada yang aneh dan menyeramkan dengan rumah milik Madame Rita tetapi justru tingkah polah orang – orang rumah itulah yang membuat suasana menjadi aneh. Julie kebingungan ketika Januar yang ternyata sangat cerdas dan jauh dari kesan keterbelakangan mental justru dikekang oleh Oma-nya bahkan tidak diperkenankan keluar dari rumah. Keadaan semakin runyam ketika ibu Lulu (Erly Ashy) datang dan meminta Julie untuk menguak keanehan di rumah itu dan memecahkan teka – teki hilangnya Lulu yang misterius. Sebenarnya apa yang terjadi di rumah Madame Rita? Kenapa Madame Rita seakan – akan menutup – nutupi sesuatu? Akankah teka – teki hilangnya Lulu bisa terjawab? Dan mampukah Julie membebaskan Januar dari teror yang ada di dalam rumah tersebut?

Affandi Abdul Rachman memang bukan nama baru di dunia perfilman setidaknya saya sudah menonton tiga film yang pernah digarap Affandi sebelumnya yakni Pencarian Terakhir (2008), HeartBreak Dot Com (2009), dan Aku atau Dia (2010). Jujur saya suka dengan film – film Affandi sebelumnya kecuali Aku atau Dia karena membawa nafas yang segar di dunia perfilman nasional. Masih begitu lekat di ingatan saya Pencarian Terakhir yang bergenre horror dengan pendekatan drama yang manis tetapi tetap ada unsur ketegangannya dan HeartBreak Dot Com yang begitu menyenangkan dari segara aspek produksinya. The Perfect House ini adalah karya keempatnya di industri perfilman dan lagi – lagi hasilnya tidak bisa dianggap remeh karena Affandi telah benar – benar mampu mempermainkan psikologis penonton lewat sajian yang menegangkan sekaligus membuat penasaran (di awal – awal). Sang sutradara bagi saya cukup berhasil membangun suasana thrilling dan mengeksekusi naskah ke alam audio visual dengan baik. Kemampuan Affandi Abdul Rachman mengksekusi secara tepat film yang diproduseri Vera Lasut ini agaknya telah mengukuhkan namanya sebagai salah satu promising director di Indonesia.

Kesuksesan Affandi Abdul Rachman membesut The Perfect House sudah pasti tidak hanya dikarenakan talentanya yang bagus tetapi juga di dukung oleh jajaran kru yang mumpuni. Nilai plus saya berikan pada tim artistik, make-up, dan wardrobe yang sudah mampu menyulap film ini dengan ambience yang benar – benar old school. Belum lagi tata musik oleh Aghi Narottama dan Bemby Gusti juga sinematografi oleh Faozan Rizal yang saling melengkapi membangun sebuah karya yang solid. Saya benar – benar mengacungkan jempol untuk tim wardrobe yang memberi Madame Rita pakaian – pakaian yang begitu cantik dan bercita rasa kolonial Belanda lengkap dengan warna – warna serta motif yang bagus juga aksesoris seperti topi – topi cantik.

Dari jajaran akting para pendukung film The Perfect House ini tentu saja yang paling menonjol adalah kualitas akting aktris watak yang sudah eksis sejak tahun 80-an, Bella Esperance. Akting Bella Esperance benar – benar memukau meskipun peran seperti Madame Rita rasanya tidak asing lagi bagi beliau. Terakhir performa yang hampir sama beliau berikan lewat perannya dalam Kuntilanak 2 (2007) sebagai salah satu keluarga Mangkoe Djiwo yang gemar membantai. Endy Arfian, aktor cilik yang sempat beberapa kali saya lihat di layar kaca sebagain bintang iklan dan pemain sinetron yang lucu dan imut mampu memainkan peranannya dengan baik dalam film ini dan saya yakin Ia akan menjadi calon aktor besar di masa yang akan datang. Mike Lucock meskipun hampir tidak berdialog sama sekali di sepanjang film mampu memberikan performa yang baik juga almarhum Wanda Nizar yang langganan bermain di film – film Affandi sebelumnya mampu memperlihatkan totalitasnya dalam berakting meskipun tidak banyak part-nya. Kharisma Cathy Sharon memang tidak sekuat sang adik Julie Estelle tetapi di film ini setidaknya ada sedikit peningkatan dari aktingnya dibandingkan beberapa film sebelumnya. Point terbaik dari akting Cathy disini adalah bagaimana Ia membangun chemistry dengan tokoh Januar selebihnya masih kurang greget dan ekspresinya kurang “sesuatu” bagi saya.

Dari semua production’s notes The Perfect House sudah menampilkan kekuatan yang maksimal tetapi ternyata tidak dengan kekuatan naskahnya. Naskah The Perfect House ditulis oleh Alim Sudio yang pernah terlibat dalam penulisan naskah Air Terjun Pengantin, Jenglot Pantai Selatan, dan sederet film lainnya. Naskah yang lemah dan banyak plot hole-nya membuat film ini menjadi kurang enak diikuti apalagi pada bagian pertengahan hingga akhir karena pasti penonton akan tahu arah filmnya akan dibawa kemana pada akhirnya meskipun ada twist di akhir cerita penonton sudah terlebih dahulu menebaknya. Buktinya ketika saya menonton ada yang walk-out di 3/4 filmnya mungkin karena kebosanan dan sudah tahu endingnya akan seperti apa. Pada bagian yang seharusnya lebih mengegangkan juga rasanya kurang di eksplorasi dan kurang unsur actionnya sehingga menjadi kurang seru dan kurang breath-taking. Dengan kata lain tensi yang cukup baik dibangun sejak awal film dengan naskah yang lemah dan pengadeganan yang kurang maksimal membuat sisa filmnya terasa membosankan.

Selain naskah yang kurang menantang penonton untuk menebak ceritanya, yang saya sayangkan adalah kenapa seakan – akan The Perfect House ingin mendompleng nama besar film Thriller Slasher Rumah Dara. Dari segi penampilan filmnya yang bernuansa Vintage dan ke-Belanda – Belanda-an, gestur dan timbre vokal Madame Rita yang sangat mengingatkan saya pada Ibu Dara (meskipun saya akui Madame Rita lebih menyeramkan), tokoh – tokoh pelengkap seperti Yadi yang mirip Arman di Rumah Dara. Tidak hanya sampai di situ beberapa beberapa adegan di The Perfect House ada yang mengingatkan saya dengan adegan di Rumah Dara seperti adegan makan malam di iringi musik jadul dari piringan hitam, adegan Madame Rita membunuh Yadi, hingga adegan kejar – kejaran Madame Rita dengan Julie yang mengingatkan saya dengan adegan duel Ibu Dara dan Ladya (tentu saja Rumah Dara lebih epic!), dan terakhir bisa dilihat di trailernya masing – masing filmnya, di The Perfect House ada Madame Rita yang berteriak “Kamu tidak tahu nak Julie” dan di trailer Rumah Dara ada Dara yang berteriak “Enak Kan?”. Kemiripan memang lazim terjadi dan memang bisa jadi biasa saja tetapi bagi saya semua berimbas kepada Cathy Sharon yang seperti menjadi second rate dari Julie Estelle, sang adik, apalagi setelah dulu Julie sukses dengan Kuntilanak, Cathy tak mau kalah dengan Hantu Bangku Kosong yang so-so.

Poster film The Perfect House bagi saya agak kurang menjual buktinya saya menonton di hari kedua film ini tayang di bioskop hanya ada lima orang yang menonton di studio dan berkurang menjadi empat ketika ada yang walk-out. Poster filmnya terlalu ceria untuk ukuran film horror dan font judulnya mungkin agak sulit dibaca sehingga orang kurang tertarik untuk menontonnya padahal isi filmnya lumayan. Tone warna di filmnya juga memang sudah cukup baik tetapi menurut saya di beberapa bagian terlihat terlalu terang dan berani untuk ukuran film horror tetapi mungkin itu yang ingin disampaikan dalam film ini, bukan rumahnya yang tampil gloomy, angker, dan menyeramkan tetapi yang dikedepankan adalah karakter orang – orangnya yang aneh dan menyeramkan. Keanehan lain dari The Perfect House adalah adanya beberapa scene yang muncul di trailernya tetapi tidak tayang di filmnya (entah mungkin saya yang kurang jeli saat menonton).

Terlepas dari semua ketidaksempurnaan The Perfect House ini setidaknya muncul lagi satu film nasioanl yang digarap dengan serius dengan jajaran pemain yang bagus hingga mampu menjadi salah satu official selection di ajang Puchon International Fantastic Film Festival (PiFan) Korea dan kabarnya mendapatkan sambutan yang cukup baik disana. Sebagai film Psychological Thriiler pertama di Indonesia memang The Perfect House harus diberi apresiasi karena tidaklah mudah membuat sebuah film yang berbeda dan jauh dari selera pasar yang sekarang ini dirajai film – film Hollywood dan film – film esek – esek yang berkedok horror asal negeri sendiri. Salut untuk tim produksi The Perfect House yang secara solid menggarap karya yang berbeda dan serius hingga diberi kesempatan untuk tayang di festival – festival film luar negeri. The Perfect House sudah tayang sejak 27 Oktober lalu dan silakan datang ke bioskop – bioskop di kota terdekat anda untuk melihat aksi yang lumayan dari Cathy Sharon dan Bella Esperance. Karena di balik kekurangan – kekurangannya The Perfect House masih menjadi salah satu film Indonesia yang recommended. Mari dukung film Indonesia yang layak di dukung!!

The Perfect House Trailer:

Movie Score (2,5/5)

©writtenbyrioaditomo311011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s