Movie Review: Hugo 3D (2011)


Hugo 3D | Martin Scorsese | Ben Kingsley, Asa Butterfield, & Chloe Grace Moretz | Paramount Pictures

If you ever wonder where your dreams come from, look around: this is where they’re made.”
Georges Melies, Ben Kingsley-

Adalah Hugo Cabret (Asa Butterfield) seorang anak yatim piatu yang tinggal di sebuah stasiun kereta api di Paris. Bocah malang yang berusia 12 tahun itu terpaksa tinggal di balik tembok stasiun kereta api Gare Montparnasse karena ikut dengan sang paman, Claude Cabret (Ray Winstone), yang pemabuk setelah sang ayah (Jude Law) meninggal dalam sebuah kebakaran. Hugo menggantikan tugas sang paman untuk mengurus jam yang berada di stasiun tersebut. Hugo harus bertahan hidup di stasiun tersebut sendirian. Ia memeras otaknya untuk terus bisa makan setiap harinya dan tidak hanya itu saja Hugo juga harus mengerahkan pikirannya untuk memperbaiki sebuah Automaton (Robot) peninggalan Almarhum sang ayah. Demi mendapatkan onderdil untuk memperbaiki Automaton tersebut Hugo pun rela mencuri dari toko mainan milik seorang lelaki tua bernama Papa Georges (Ben Kingsley). Suatu hari yang naas Hugo akhirnya tertangkap basah ketika akan mencuri di toko milik Papa Georges. Sejak saat itulah petualangan Hugo dimulai dan segala misteri mulai terkuak. Misteri apakah itu? Dan petualangan apa yang dihadapi Hugo?

Hugo digarap oleh Martin Scorsese? Sebuah film keluarga berteknologi 3D di sutradarai seorang Martin Scorsese? Mungkin itulah yang tersirat dalam pikiran anda yang mengenal karya – karya Scorsese sebelumnya. Sutradara yang sukses lewat Taxi Driver (1976), Godfellas (1990), The Departed (2006), dan terakhir Shutter Island (2010) ini memang baru saja memulai debutnya dalam penggarapan film bertema keluarga dengan polesan 3D yang megah dan ramah untuk segala umur lewat Hugo (2011). Scorsese membuktikan bahwa Ia juga mampu membuat sebuah film keluarga dengan visualisasi renyah menjadi tontonan yang tidak Cheesy dan mudah terlupakan. Sayangnya Scorsese belum mampu meraih predikat sutradara terbaik di ajang Academy Awards tahun ini padahal untuk kesekian kalinya Scorsese masuk dalam daftar unggulan sutradara terbaik. Terakhir Scorsese berhasil mendapatkan piala Oscar perdananya lewat The Departed tahun 2007.

Ketika film dimulai Scorsese langsung memberikan sebuah tontonan yang segar nan memanjakan mata. Paris di tahun 1930-an begitu jelas terhampar dengan indah dalam balutan 3D dan CGI yang nyata. Scorsese mampu bersinergi dengan Robert Richardson selaku penata Sinematografi sehingga memberikan komposisi – komposisi gambar yang begitu memikat mata di setiap frame film Hugo ini. John Logan yang sebelumnya telah sukses berkolaborasi dengan Scorsese dalam The Aviator kini juga berhasil mengkomunikasikan cerita yang diambil dari buku milik Brian Selznick bertajuk The Invention of Hugo Cabret ke dalam media naskah film. Kerja tim yang profesional dari segala lini; penyutradaraan, sinematografi, musik, Wardrobe, naskah, dan artistik sungguh membuat Hugo menjadi sebuah karya film yang memukau. Teknologi 3D yang biasanya membuat mata (saya) lelah tidak terjadi dalam film ini karena efek 3D tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh Scorsese sehingga tidak hanya jadi sekedar pelengkap saja tetapi juga menjadi bagian yang utuh bersama dengan keseluruhan filmnya. Tidak heran dengan kompetensi para kru film ini, Hugo mampu meraih lima piala Oscar dalam kategori teknis antara lain Sinematografi Terbaik dan Efek Visual Terbaik.

Ben Kingsley kembali menunjukan kualitas akting yang mumpuni dan mengembalikan namanya ke jajaran aktor senior yang aktingnya perlu diperhitungkan. Asa Butterfield dan Chloe Grace Moretz juga memberikan performa yang bagus dengan Chemistry yang erat. Asa Butterfield bisa jadi akan menjadi aktor yang besar di masa yang akan datang mengingat kharismanya yang kuat dalam film ini. Setuju atau tidak Chloe Moretz juga semakin mantap menasbihkan dirinya sebagai aktris muda yang berbakat dan selektif memilih peran. Ben Kingsley, Asa Butterfield, Chloe Moretz, dan Helen McCrory sama – sama memberikan daya pikat yang pas sesuai dengan porsi karakter yang mereka perankan. Yang sangat mencuri perhatian dalam film ini menurut saya adalah karakter Gustave, sang penjaga stasiun, yang dengan baik diperankan oleh Sacha Baron Cohen yang sebelumnya dikenal lewat karakter Ali G, Borat, dan Bruno. Cohen mampu memberikan gestur yang dingin sekaligus menggelitik, sungguh pemilihan Cast yang tepat.

Hugo bukanlah sebuah film anak – anak yang sekadarnya, bukan juga film biasa yang menjual aksi dan cerita Fairy-Tale. Hugo lebih Real dengan Tribute untuk film dan untuk Pioneer film di masa-nya, Georges Melies, yang menurut saya sangat luar biasa jenius. Lewat Hugo saya diingatkan kembali dengan kekuatan sebuah imajinasi dan mimpi yang mampu menelurkan karya yang luar biasa. Saya juga dapat merenungi bahwa ada kalanya kita harus belajar pada anak kecil, bagaimana kepolosan, keyakinan, dan perjuangan mereka mampu membuat perubahan. Hugo mengajarkan saya pribadi untuk tidak menyerah pada keadaan, perjuangkan apa yang sudah dicapai, dan berdiri pada keyakinan saya apapun yang terjadi. Yang pasti Scorsese, Georges Melies, dan Hugo Cabret akan membuat anda terhibur sekaligus menyelami kisah – kisah yang ada di dalamnya. Anda akan keluar dari bioskop dengan sebuah inspirasi yang melekat sekaligus terperangah oleh keajaiban yang telah diciptakan Scorsese dan George Melies selama film berlangsung. One Word; Amazing!


Georges Melies: “My life has taught me one lesson: Happy endings only happen in the movies.”

Hugo: “The story’s not over yet.”

Hugo 3D Official Trailer:

Movie Score (4/5)

©writtenbyrioaditomo120112

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s