Movie Review: HI5TERIA (2012)



Jumlah film – film nasional yang mengatasnamakan Horror padahal palsu rasanya semakin banyak merajalela di bioskop – bioskop Indonesia. Pocong, Kuntilanak, Suster Ngesot, Tuyul, dan dedemit lainnya dibuat sebagai lelucon yang konyol dan disejajarkan dengan adegan – adegan semi porno yang ‘nanggung’. Apakah para sutradara dan produser film – film seperti itu tidak takut jika suatu saat para dedemit menuntut balas karena citra seram mereka jadi cupu gara – gara film sampah mereka? Dampak terbesar akan maraknya film – film sampah berkedok Horror tersebut adalah hilangnya kepercayaan penonton saat munculnya film – film yang benar – benar membawa semangat Horror yang sebenarnya sehingga banyak juga sineas yang mungkin urung membuat film Horror yang berkualitas. Seingat saya sejak tahun 2010, saya baru melihat tiga buah film Horror yang benar – benar mengikuti pakem Horror yang seharusnya. Saya hanya bisa mengingat Rumah Dara (2010), The Perfect House (2011), dan Fisfic 6 Vol. 1 (2011), selebihnya? Nihil, hanya mengaku – ngaku sebagai film Horror padahal bukan. Beruntunglah saya, 29 Maret 2012 lalu telah menjadi saksi mata kemunculan film Horror nasional pertama di tahun ini sekaligus film Horror nasional keempat dalam daftar saya yang memang murni menggunakan pakem Horror di periode 2010-an ini.

Hi5teria (Baca: Histeria) adalah judul film Horror yang saya singgung di paragraf sebelumnya. Film ini memiliki konsep Omnibus (beberapa film pendek dimuat dalam satu film panjang) yang sudah familiar di Indonesia sejak kemunculan Takut: Faces of Fear (2009) dan Fisfic 6 Vol. 1 (2011). Upi Avianto yang kita kenal sebagai sutradara film – film sukses seperti 30 Hari Mencari Cinta (2004) dan Radit & Jani (2008) adalah otak dari pembuatan Hi5teria, Ia berperan sebagai Produser dalam film ini. Upi mengajak lima orang sineas muda untuk bergabung dalam proyeknya bersama rumah produksi Starvision ini. Hasilnya jadilah sebuah sajian Long Feature Movie ber-Genre Horror dengan konsep Omnibus berisi lima buah film pendek. Berikut ulasan kelima film tersebut:

Pasar Setan | Sutradara: Adriyanto Dewo | Pemain: Tara Basro, Dion Wiyoko, & Egy Fedly

Film pembuka rentetan teror dalam Hi5teria ini berkisah tentang Sari (Tara Basro) yang terpisah dari Jaka (Egy Fedly), kekasihnya, saat naik gunung bersama. Ditengah pencariannya, Sari bertemu Zul (Dion Wiyoko) yang akhirnya mau membantu Sari untuk mencari Jaka. Perjalanan mereka terhenti ketika suara – suara seperti keramaian pasar terngiang dari arah hutan yang gelap. Ketika membaca sinopsisnya saya tertarik dengan apa yang ditawarkan dari film ini. Ekspektasi yang cukup besar ternyata membuat saya kecewa pasalnya film ini pada eksekusinya mengambil sudut pandang yang berbeda dari perkiraan saya. Prediksi saya, film ini akan membawa penonton dalam peluatangan mistis di dalam pasar setan tetapi malah Pasar Setannya tidak terlalu di eksplorasi. Sayangnya cerita yang ditawarkan ternyata hampir mirip dengan film debut Affandi Abdul Rachman, Pencarian Terakhir (2008), sehingga tidak ada sesuatu yang mencengangkan dalam film ini bahkan Endingnya pun sudah terbaca sejak pertengahan film. Akhirnya saya hanya bisa menikmati sinematografi yang indah serta performa akting Tara Basro (Catatan Harian Si Boy) yang lumayan baik dalam film ini. Poin plus saya berikan untuk D.O.P (Director of Photography) yang telah memberikan komposisi gambar lanskap yang indah juga penata kostum yang menurut saya pilihannya sangat tepat menggambarkan Setting waktu kejadian (Timeline) dalam film ini. (2/5)

Wajang Koelit | Sutradara: Chairun Nisa | Pemain: Maya Otos & Sigi Wimala

Berkisah tentang seorang jurnalis asing, Nicole (Maya Otos), yang terbawa arus mistis saat melakukan riset untuk artikel kebudayaan bertema Wayang Kulit di Jawa Tengah. Kisah klenik tradisional yang penuh mistis memang sangat digemari masyarakat Indonesia termasuk saya. Chairun Nisa termasuk berhasil mengemas Wajang Koelit menjadi tayangan yang menyeramkan sayangnya durasi yang singkat membuat film ini terasa terburu – buru sehingga saya merasa tidak diberi ruang untuk mengenal & berempati pada tokoh Nicole. Penjabaran filosofis dan sejarah Wayang Kulit pun jadi kabur karena tertimpa dialog antar pemain sehingga saya merasa kurang masuk ke dalam ceritanya. Tetapi semua kekurangan tersebut terobati dengan eksekusi yang apik sepanjang film secara teknis dan juga kualitas akting. Memasuki bagian puncaknya Wajang Koelit menghadirkan sajian yang mencekam dan membuat saya ngos – ngosan apalagi bagian penampakan yang meskipun hanya siluet tetapi dibantu Scoring dan tata suara yang mumpuni membuat ketakutan menjadi hidup. (3/5)

Kotak Music | Sutradara: Billy Christian | Pemain: Luna Maya, Kris Hatta, & Dinda Kanya Dewi.

Adalah Farah (Luna Maya) seorang penulis buku “There Is No Ghost” sekaligus dosen yang cerdas, bergaya khas wanita metropolitan, & Independent. Farah tidak percaya akan hal – hal yang berbau mistis tetapi hidupnya berubah ketika Ia mengambil sebuah kotak musik di rumah tua. Pada tahap ini Hi5teria semakin menunjukan tajinya sebagai film Horror berkualitas. Billy Christian mampu mempergunakan durasi dan keterbatasan yang ada sesuai dengan porsinya. Menurut saya produksinya sangat rapi secara teknis dan cerita tersusun sistematis sehingga penonton nyaman menontonnya. Lupakan ceritanya yang usang dan mudah ditebak juga penampakan hantu yang tidak terlalu menakutkan. Dari semua kisah di Hi5teria hanya Kotak Musik yang lengkap men-Transfer pesannya ke penonton, tidak hanya itu karakter – karakter di film ini terbangun dengan baik. Aura Luna Maya dan Kris Hatta terpancar jelas beserta Chemistry yang lucu dan menurut saya Kris Hatta naik kelas dari pemain pendukung di FTV menjadi sosok aktor yang cukup kharismatik disini. (3,5/5)


Palasik | Sutradara: Nicho Yudifar | Pemain: Imelda Therine, Adrian Aliman, & Poppy Sovia

Liburan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari Ayah (Adrian Aliman), Anak (Poppy Sovia), dan Ibu tirinya (Imelda Therine) harus berakhir tragis akibat teror makhluk gaib yang dikenal sebagai Palasik. Saya cukup berekspetasi tinggi juga pada film ini karena mengangkat kisah dedemit yang sudah lama kehilangan pamornya sejak kemunculannya di tahun 80-an lewat Mystic In Bali dan di pertengahan 90-an lewat serial TV, Palasik. Tetapi lagi – lagi saya harus kecewa karena Nicho Yudifar dan Kru-nya gagal mempresentasikan tontonan yang saya harapkan. Pemain pendukung dengan akting mumpuni dan ide cerita yang menarik sangat bisa dihadirkan dengan lebih Creepy tetapi semua jadi sia – sia. Ada sedikit ketegangan tetapi tidak cukup membuat sesak nafas seperti dua film sebelumnya, penampakan Palasik kurang terasa menakutkan, dan yang paling disayangkan Twist di Ending sudah tertebak bahkan sejak trailer resminya keluar (ada teaser adegan Poppy Sovia di akhir Trailer) dan bahkan diberi Spoiler lewat adegan gambar lukisan yang ditunjukan sejenak sebelum adegan pamungkas diberikan. (2/5)


Loket | Sutradara: Harvan Agustruansyah | Pemain: Ichi Nuraini & Bella Esperance

Seorang gadis penjaga loket parkiran di sebuah gedung (Ichi Nuraini) mendapatkan Shift malam dan sialnya malam itu Ia harus berjibaku dengan sebuah teka – teki yang membingungkan. Loket adalah penutup yang tidak buruk karena berhasil menggelar sebuah Suspense Thriller yang penuh teka – teki dan yang memiliki Twist sulit ditebak dibandingkan film – film sebelumnya. Kharisma Ichi Nuraini yang seingat saya belum pernah mendapatkan porsi besar dalam berakting sungguh tidak disangkakan, Ia mampu memberi mimik dan gestur yang pas untuk tokoh yang diperankan. Bella Esperance seperti biasa juga menghadirkan performa akting terbaiknya dan tampil menyeramkan. Selain dari segi cerita dan akting pemain, Loket juga unggul secara teknis dan sinematografi, sayangnya tensi yang sudah dibangun sejak awal dan Twist yang saya rasa cukup bagus dan tersampaikan dengan baik tanpa Spoiler menjadi sia – sia karena Endingnya menurut saya malah aneh sehingga seperti tidak sampai klimaksnya. Ketika keluar dari bioskop saya tidak seperti keluar dengan rasa puas tetapi malah mengernyitkan dahi. (3/5)

Secara keseluruhan Hi5teria telah memberikan hasil paling maksimal untuk meyakinkan masyarakat bahwa film Horror nasional yang berkualitas dan benar – benar mempunyai misi untuk menakut – nakuti masih ada meskipun pada akhirnya Hi5teria bagi segelintir orang pasti masih pada level belum sampai membuat takut. Keterbatasan dana dan durasi pasti berpengaruh sangat besar pada hasil akhir masing – masing film pendek di dalam Hi5teria ini maka dari itu sangat dimaklumi jika hasilnya masih dibawah ekspektasi penonton. Yang saya garis bawahi disini adalah mari kita hargai jerih payah sineas muda dalam film ini untuk membuat sebuah karya yang layak untuk dinikmati oleh masyarakat Indonesia toh kualitasnya boleh diadu dengan film Pocong-Kunti-Tuyul-Dan-Demit-Lainnya yang marak di bioskop – bioskop saat ini dan pasti hasilnya akan jauh lebih baik Hi5teria ini. Film ini tidaklah jelek dan patut diapresiasi hanya saja jika menonton diharapkan untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi agar efek setelah menonton jadi lebih terasa. Kabarnya Upi Avianto akan rutin membuat Omnibus Horror semacam ini semoga di karya Volume selanjutnya bisa lebih baik lagi, lengkap dengan benang merah yang lebih spesifik karena saya melihat ada tiga film yang mengekspose hantu dan budaya mistis tradisional di Hi5teria ini, menurut saya akan lebih baik jika semua film seragam memakai tema tersebut.

HI5TERIA Official Trailer:

Movie Score (3/5)

©writtenbyrioaditomo01042012

4 thoughts on “Movie Review: HI5TERIA (2012)

  1. “…semoga di karya Volume selanjutnya bisa lebih baik lagi, lengkap dengan benang merah yang lebih spesifik…” Amien…. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s