Movie Review: The Raid (2012)


The Raid (Serbuan Maut) | Gareth Evans | Iko Uwais, Donny Alamsyah, Yayan Ruhiyan, & Ray Sahetapy | 2012 | PT. Merantau Films | XYZ Films | Sony Pictures Classics

…1 Ruthless Crime Lord, 20 Elite Cops, 30 Floors of Hell…

Sebuah tim pasukan bersenjata mengemban tugas penting yang mempertaruhkan nyawa mereka yakni menyerbu markas besar seorang penjahat kelas kakap bernama Tama (Ray Sahetapy) yang selama ini tidak pernah terjangkau oleh tangan – tangan hukum. Itulah sepenggal plot yang sangat sederhana dari film Indonesia yang namanya bergaung hingga di mancanegara, Serbuan Maut alias The Raid (The Raid: Redemption). Film ini diarahkan oleh sutradara asal Inggris, Gareth Huw Evans, yang telah sukses membawa pencak silat lewat film Merantau (2009). Tak ketinggalan pemain pendukung di film Merantau juga ikut diboyong ke dalam proyek ini seperti Iko Uwais, Yayan Ruhiyan, & Donny Alamsyah. Film yang dirilis sejak 23 Maret lalu di bioskop – bioskop Indonesia dan beberapa bioskop di Amerika Serikat ini telah membawa Euforia tersendiri di masyarakat Indonesia bahkan di luar negeri pun The Raid mendapatkan sambutan yang hangat, sebuah prestasi yang hebat untuk perfilman Indonesia.

Sejak tahun lalu The Raid sudah menjadi perbincangan di kalangan pencinta film, kehadirannya begitu ditunggu – tunggu apalagi setelah banyaknya publikasi yang positif dari berbagai macam media Internet dari dalam dan luar negeri. The Raid mendapatkan kesempatan untuk Premiere di ajang Midnight Madness, Toronto International Film Festival (TIFF) pada September 2011. Setelah pemutaran perdana tersebut The Raid semakin mendunia dan mendapatkan berbagai kesempatan untuk mengikuti berbagai festival di luar negri hingga mendapatkan banyak penghargaan dan bahkan pihak Sony Pictures Classics membeli hak distribusi The Raid untuk penayangan di Amerika Serikat dengan judul The Raid: Redemption. Belum lagi dirilis di Indonesia, pihak Screen Gems dari Amerika Serikat sudah melakukan perjanjian untuk membuat Remake film The Raid dengan sutradara Gareth Evans. Tidak hanya filmnya yang Go International, untuk peredaran di Amerika Serikat film ini menggunakan Soundtrack dari Scoring yang dibuat Mike Shinoda dari Linkin Park dan Joseph Trapanese yang pernah menjadi komposer di Soundtrack Tron: Legacy.

Picture Courtesy of http://theraid-movie.blogspot.com/

Dengan prestasi yang begitu cemerlang pastinya ekspektasi penonton Indonesia begitu besar untuk film ini. Saya bukanlah penikmat film action, bahkan Merantau pun saya belum (mau) nonton tetapi untuk The Raid dengan pencapaian yang paling hebat di industri film Indonesia telah membuat saya tergelitik untuk ikut juga dalam Euforia-nya. Dibuka dengan adegan yang menggambarkan budaya timur, The Raid seakan – akan memberikan ruang untuk penonton bersiap – siap sebelum mengikuti petualangan nan mendebarkan bersama Iko Uwais, Joe Taslim, dan kawan – kawannya. Begitu memasuki adegan penyerbuan penonton dibuat terpaku, menahan nafas, menelan ludah, lalu seiring film berjalan penonton dibuat bak orang gila, bertepuk tangan, berkata – kata kotor, berteriak, mengkerut ketakutan, menutup mata, melotot, dan mencapai klimaks penonton masih disuguhkan sajian yang konsisten dan sangat menghibur.

Bagi saya pribadi The Raid adalah film Action yang sejatinya memang harus mengumbar aksi laga yang maksimal maka dari itu ketika banyak adegan kekerasan yang brutal dalam film ini tentu saja bisa dimaklumi karena memang harus seperti itu. Koreografi laga yang indah dan mencirikan seni bela diri Indonesia dengan tangan kosong karya Yayan Ruhiyan dan Iko Uwais adalah hal yang paling penting dalam menghidupkan film ini karena tanpa koreografi bela diri yang baik The Raid hanyalah sebuah film dengan penggambaran karakter yang miskin, dialog yang standar, dan plot yang begitu konvensional dan cenderung membuat bertanya – tanya. Dari segi akting pun The Raid hanya mengandalkan Ray Sahetapy yang bermain sangat luar biasa, Ray begitu menghidupkan karakter Tama menjadi penjahat yang benar – benar menakutkan meskipun memasuki bagian akhir saya merasa justru Tama sangat cemen dibandingkan anak – anak buahnya. Pemain pendukung lainnya tidaklah berakting dengan buruk tetapi masih sekedar “Okay”. Yang patut diberikan atensi adalah Iko Uwais dan Joe Taslim yang sepertinya setelah kesuksesan film ini mendapatkan banyak penggemar wanita karena peran mereka begitu membekas tak ketinggalan Donny Alamsyah dan Yayan Ruhiyan yang meskipun tidak terlalu menonjolkan secara akting tetapi masih memberikan stamina yang besar lewat aksi bela diri yang memukau termasuk saat Scene laga “Threesome Action” antara Yayan Ruhiyan, Iko Uwais, dan Donny Alamsyah yang sangat gahar, brutal, penuh energi, dan penuh emosi.

Picture Courtesy of http://theraid-movie.blogspot.com/

The Raid dengan baik membangun ketegangan yang menghibur selama sekitar 100 menit berada di dalam gedung bioskop dan penonton disajikan hiburan yang memang seharusnya didapatkan ketika menonton sebuah film. Sayangnya Gareth Evans kurang memperhatikan unsur penting sebagai pondasi yang kokoh selain menghibur dan aksi laga itu sendiri, seperti karakterisasi yang lemah, dialog yang terlalu kaku, cerita yang cara penyampaiannya kurang jelas, dan beberapa hal ganjil yang tidak sesuai logika yang seharusnya bisa diminimalisir. Saya memang tidak mengharapkan lebih dari segi cerita, penokohan, hal – hal yang berhubungan dengan nalar dan logika, juga pesan moral yang dikandung di dalamnya tetapi tetap saja kekurangan tersebut membuat The Raid yang harusnya sesempurna penilaian banyak orang menjadi sedikit cukup mengecewakan tetapi sudahlah yang pasti saya merasa terpuaskan karena secara keseluruhan The Raid telah membawa saya menuju petualangan yang menyenangkan sekaligus membuat jantung berdebar – debar lebih kencang. Oh, iya karena kabarnya The Raid akan segera ditemani dengan sekuelnya berjudul Berandal atau The Raid: Retailiation, semoga pertanyaan – pertanyaan seputar apa yang terjadi pada The Raid bisa terjawab, saya berharap Gareth Evans akan memberi intrik – intrik yang menarik, berkembang, dan diselesaikan dengan baik. Tidak lupa juga semoga karakterisasinya dapat diperbaiki sehingga tidak mubazir menggunakan Cast ternama tetapi tokohnya terlupakan atau sama sekali penonton tidak tahu ini tokoh siapa, itu tokoh siapa, ini berperan sebagai siapa, dan sebagainya.

Official Trailer The Raid:

Movie Score (3,5/5)

©writtenbyrioaditomo02042012

6 thoughts on “Movie Review: The Raid (2012)

  1. gak berniat untuk buat review The Woman In Black? penasaran dengan acting Daniel Radcliffe disana?
    oh iya, jangan lupa 11 May film Johnny Depp yang baru tayang. judulnya Dark Shadows… saya butuh review >,< hahaha =D

  2. sudah nonton The Raid (curhat dikit. waktu nonton, kan masih pake seragam, eh aku malah dieje-ejek sama orang, eh ternyata waktu filmnya mulai dia gak berani nonton. negeselin!) filmnya sih bagus, dan… I trust you kalao dialog yang disuguhkan itu kaku dan gak ada efeknya kalo mereka ngomong cause dari gerakan mereka udah ketebak mereka mau ngomong apa.

    dan aku sampai keluar bioskop masih bingung dengan adegan si Letnan nembak si bandarnya. kenapa gak waktu ada di ruangannya si letnan nembak? kenapa harus di tangga? kan kelamaan? trus si Reza (?) yang di sebut sama si bandar itu siapa lagi coba? aku bingung…

    apakah pertanyaan saya bisa terjawab di sekuelnya yang berjudul Berandal?

  3. saya penyuka film action. meski g paham benar soal dunia perfilman.
    Satu yang pasti film the raid buat saya bangga dengan sineas film Indonesia dan semua cerita yang g terjawab akan terjawab pada skuel selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s