Music Review: Lotus Deluxe Edition – Christina Aguilera


Sebagai salah satu Fighters alias penggemar berat penyanyi Christina Aguilera tentunya kehadiran album studio kelima dari penyanyi peraih empat penghargaan Grammy Awards ini adalah satu hal yang amat sangat ditunggu – tunggu. Penantian pun akhirnya tergenapi setelah Lotus dirilis pada 13 November 2012, sekitar hampir dua setengah tahun vakum paska merilis Bionic (Juni 2010) yang kurang sukses di pasaran. Bukan suatu hal yang aneh jika Christina Aguilera merilis karya – karyanya dalam jangka waktu yang cukup lama tetapi mengingat hal – hal yang telah Ia alami dua tahun terakhir tentu saja membuat penggemar semakin penasaran seperti apa musik yang akan disuguhkan Xtina dalam album terbarunya karena biasanya Aguilera sering curhat dalam lagu – lagunya dan menghasilkan lagu yang bagus. Ya, perjalanan kehidupan dan karier seorang Christina Aguilera selama dua tahun terakhir memang penuh cerita mulai dari perceraian, album yang tidak laku, perubahan bentuk fisik, gosip – gosip tak sedap, hingga kesuksesannya dalam dunia film lalu menjadi juri di sebuah ajang pencarian bakat serta duetnya bersama Maroon 5.

Ekspektasi saya semakin tinggi kepada album Lotus seketika seusai membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa Christina Aguilera akan membuat album ini sebagai generasi penerus Stripped alias Stripped 2.0. Sejak 10 tahun yang lalu hingga saat ini Stripped adalah album terfavorit dari Christina Aguilera yang menemani berbagai fase dalam hidup saya mulai dari krisis kepercayaan diri, jatuh cinta, hingga sakit hati, wajar jika akhirnya saya menaruh harapan untuk Lotus menjadi album penerus Stripped untuk melewati krisis usia 20-an saya. Aguilera semakin membuat saya ‘ngidam’ Lotus paska merilis Single pertama dari album ini, Your Body, yang begitu Ear-Catching dengan video klip yang asik dan menampilkan Christina Aguilera yang kembali menjadi dirinya yang Dirty, Slutty, dan Edgy. Konsep Lotus yang menggambarkan bunga yang kuat diterpa berbagai musim dan dianalogikan sebagai lahirnya sosok Christina Aguilera yang baru juga menambah muatan pengharapan yang besar untuk Lotus. Lalu apakah Lotus akhirnya mampu memuaskan saya? Berikut ulasan lagu – lagu dalam album Lotus Deluxe Edition.

Lotus Intro

Lotus dibuka dengan amat percaya diri dengan Track hasil kolaborasi Christina Aguilera dan Alex Da Kid ini. Track ini terdengar sangat Edgy dengan banyak pengaruh musik di dalamnya namun mampu dikawinkan menjadi Sound yang mudah dicerna. Saya menangkap aura Lana Del Rey, Kelly Rowland, dan tentunya M83 dalam lagu ini yang disinergikan dengan vokal Christina Aguilera yang kali ini diberi efek Auto-Tune untuk membangun Ambience yang pas dengan semangat elektronika yang diusung lagu ini. Sahut – sahutan Choir, permainan perkusi yang berkesan Tribal, dentuman Hip-Hop, imbuhan elektronika, dan Strings Section menyatu mengiringi lirik yang menjelaskan Lotus sebagai awal baru dalam kehidupan Christina Aguilera yang menjelma menjadi sosok yang lebih kuat dan berani. Saya tersentuh dengan sebuah kalimat yang dilontarkan Aguilera, “I Leave The Past Behind And Say Goodbye To The Scared Child Inside.”, satu hal yang mungkin sulit dilakukan seorang Christina Aguilera yang memiliki masa lalu yang menyakitkan tetapi akhirnya Ia bisa lantang menyuarakan bahwa Ia telah berdamai dengan kenangan – kenangan buruk yang membuatnya Insecure selama ini (Y’all True Fans Would Know What I Mean).

Army of Me

Lagu ini digadang – gadang sebagai Fighter-nya generasi masa kini. Tidak salah memang menilai lagu ini sebagai generasi penerus Fighter karena liriknya sama – sama bertema Self-Empowering tetapi rasanya untuk menjadi se-Anthemic Fighter dalam album Stripped, Army of Me terlalu hambar tak terdengar emosi kemarahan, percaya diri, dan penuh penjiwaan seperti pada Fighter. Memang Army of Me tidak bisa disamakan dengan Fighter karena Army of Me mungkin hadir dalam bentuk emosi yang lebih dewasa dan lebih kalem jika dibandingkan dengan Fighter yang meledak – ledak. Track kedua dalam album Lotus ini membawa unsur Pop dengan sentuhan Electropop dan Disko Retro khususnya pada bagian Verse-nya. Chorus-nya cukup meracuni untuk terus dinyanyikan meskipun tidak cukup membakar semangat seperti Fighter.

Red Hot Kinda Love

Apa jadinya jika Bubblegum Pop Xtina dipadukan dengan Bionic Xtina dan Jazzy Mama Xtina? Jawabannya ada dalam Track Red Hot Kinda Love. Disini Christina Aguilera yang dibantu oleh Lucas Secon seakan – akan menghadirkan rekap perjalanan musik ibu dari Max Liron ini karena saya seperti mendengarkan Don’t Make Me Love You (Til I’m Ready), Monday Morning, dalam jalinan aransemen A la Christina Aguilera di Era Back To Basics dalam format yang lebih Pop dan Catchy. Lirik dan lagunya memang sangat remaja dan centil sekali seperti pada masa awal – awal Aguilera mengawali kariernya sebagai Pop Star. Lagu ini dibalut dalam nuansa yang ceria dan segar cocok bagi mereka yang jatuh cinta meski usia tak muda lagi. Fun Fun Fun!

Make The World Move (Featuring CeeLo Green)

Ketika pertama kali melihat judul lagu ini saya piker Make The World Move adalah sebuah lagu Pop standar soal pesta dan dansa tetapi ternyata saya salah. Track keempat ini menyuguhkan tema yang Universal soal bagaimana menyebarkan cinta untuk mengubah dunia jadi lebih baik. Well, Christina benar – benar membuktikan bahwa Ia adalah pribadi yang baru tak lagi – lagi melulu soal cinta, masalah kehidupan di masa lalu, penyakit hati, dan menjadi wanita binal sepanjang malam. Aguilera dan CeeLo Green menyerukan pendengar untuk “Turn Up The Love Turn Down The Hate” sepanjang lagu ini. Sungguh sebuah lagu yang bagus dan memotivasi dalam hal yang positif dengan muatan lirik yang mudah dipahami. Masih dalam benang merah Pop, Make The World Move seperti lagu – lagu yang dibuat untuk kantung album Back To Basics kepingan pertama. Thumbs Up untuk CeeLo Green yang memberikan warna khasnya dalam lagu ini sehingga semakin hidup dan Cathy.

Your Body

Lagu ini menandai kerjasama Christina Aguilera yang pertama kalinya dengan produser Max Martin yang satu dekade lalu sukses membawa penyanyi – penyanyi seangkatan Aguilera seperti Britney Spears ke puncak karier. Your Body sungguh tidak mengecewakan karena sangat Ear-Catching dengan formula Pop yang begitu digemari saat ini yakni Electropop yang diberi imbuhan Dubstep yang berbaur dengan vokal yang menggelegar dari Xtina. Sangat tidak salah Xtina memilih Your Body menjadi Single andalan untuk album ini karena lagu ini benar – benar gampang diingat dan memiliki semua yang dibutuhkan Xtina untuk bangkit dari kemerosotan kariernya. Produser mumpuni, rumus musik Pop masa kini, vokal Xtina tetap tereksplorasi, lirik yang nakal, dan video klip yang menyenangkan adalah perpaduan yang sangat tepat untuk mencuri hati penggemar musik.

Let There Be Love

Satu lagi hasil kerjasama Christina Aguilera dan Max Martin yang membuahkan sebuah Club-Anthem yang Radio—Friendly, sayangnya Let There Be Love akhirnya harus puas diri menjadi bagian Pop Generik yang tidak ada keistimewaannya sama sekali di kuping saya. Let There Be Love ini tidak jelek justru mungkin terlalu enak sehingga hilang rasa gregetnya karena saya bisa membayangkan penyanyi lainnya juga bisa saja menyanyikan Let There Be Love ini meski tanpa vokal seperti Christina Aguilera yang Powerful. Selain lagu ini sangat generik, saya rasa terlalu banyak yang mempunyai lagu Hits dengan formula semacam Let There Be Love di tangga lagu belakangan ini. Usher, Chris Brown, Rihanna, Britney, hingga SM*SH pun memiliki lagu – lagu seperti ini.

Sing For Me

Sebagai Ballad pertama dalam album ini, Sing For Me memang bukan lagu yang mampu langsung menggaet kuping saya, bahkan rasanya sedikit membosankan tetapi dalam beberapa kali putar akhirnya saya mendapatkan esensi lagu ini. Sing For Me ini adalah lagu yang menjadi hadiah untuk para Fighters dari Christina Aguilera sebagai penyemangat dan penenang disaat galau. Ballad dengan sentuhan R&B A la Mariah Carey dengan nuansa Pop Ballad 80-an dalam aransemennya ini menunjukkan kemampuan vokal Christina Aguilera hingga titik maksimal. Aguilera mengingatkan penggemarnya bahwa Ia masih memiliki vokalnya yang luar biasa itu untuk diperdengarkan kepada semua yang mencintai musiknya. Sing For Me memang bukan sebuah Ballad yang langsung kena sasaran seperti I Turn To You, Beautiful, Hurt, atau You Lost Me tetapi percayalah jika didengar berkali – kali akan terasa nikmatnya apalagi jika menyadari Aguilera telah menuliskan lagu ini khusus untuk para penggemar setianya sebagai tanda cintanya.

Blank Page

Berbeda dengan Sing For Me, lagu yang satu ini melenggang begitu mudah ke dalam telinga, lalu menyusup ke dalam relung hati hingga terus menghantui di dalam kepala saya. Blank Page bukan formula baru hasil karya Sia Furler dan Christina Aguilera karena masih mengedepankan penjiwaan dan dinamika vokal Christina Aguilera diiringi dentingan piano dan lirik yang indah seperti Bound To You dan You Lost Me. Lagu ini menjadi pengobat rasa kecewa saya soal absennya Linda Perry di album ini karena Sia dan Aguilera akhirnya menjadi semakin solid dan mampu menghasilkan karya yang selalu bagus bersama – sama. Siapapun yang pernah menyia – nyiakan cintanya pasti akan tersentuh dengan lagu ini dan ikut terbawa dalam melankolia tak bertepi.

Cease Fire

Dalam lagu kesembilan ini, Christina Aguilera kembali mengajak pendengar untuk menyebarkan cinta daripada menabur kebencian terus menerus seperti dalam Make The World Move. Ia membawa pendengar untuk berdamai dengan masalah, cinta, pasangan, dan kesulitan dalam kehidupan ini. Dengan iringan Military Drum Aguilera menyebarkan pesan bahwa berserah bukan berarti kalah tetapi berserah untuk berdamai akan menghasilkan sesuatu yang positif dan lebih baik daripada terus bergumul melawan arus. Sebuah lagu yang menggambarkan perjuangan seorang Christina Aguilera dalam mengarungi kehidupannya yang pasti tidaklah mudah termasuk perceraiannya yang  menyakitkan (jika diingat betapa Christina begitu bahagia bisa menikmati cinta seperti yang disampaikan dalam lagu – lagu di album Back To Basics). Mungkin lagu inilah yang mengingatkan penggemar bahwa Christina Aguilera berdiri sampai sekarang karena keberhasilannya berdamai dengan segala percobaan yang berat hingga akhirnya menjadi pribadi yang baru.

Around The World

Tak mau kalah dengan Kat DeLuna, Hilary Duff, Jennifer Lopez, dan Tinie Tempah yang berpesta keliling dunia dari Ibiza ke Milan, Brazil, Tokyo, Paris, dan negara lainnya, Christina Aguilera pun ingin turut serta lewat lagu ini tak hanya berpesta, bersenang – senang, dan berkasih – kasihan dengan pasangannya Ia juga ingin menyebar cinta di seluruh dunia, begitulah sekilas yang saya tangkap dari lagu ini. Sepertinya rasa cinta Aguilera kepada Rihanna dituangkan dalam lagu ini, karena saya mendengar pengaruh Rihanna sangat besar apalagi di bagian Verse-nya. Ya, Christina Aguilera adalah seorang Rihanna Navy yang tidak pernah malu Ia utarakan. Tapi bukan berarti lagu ini memplagiat cara bernyanyi dan musik Rihanna secara keseluruhan karena saya masih mendengar rasa Christina Aguilera dalam lagu ini. Sayangnya Around The World  ini cukup membosankan seperti halnya Let There Be Love meskipun lagunya sendiri tidak jelek.

Circles

Kolaborasi Alex Da Kid dan Christina Aguilera lagi – lagi menghasilkan sebuah karya yang unik. Circles mengadopsi berbagai macam jenis musik mulai dari Reggae-Dance Hall, Hip-Hop, dan Pop  pada Verses-nya lalu pada bagian Chorus pendengar disajikan sebuah irama Punk Rock 90-an dilengkapi dengan efek High Pitch yang agak mengganggu tetapi adiktif. Lagu ini seperti perkawinan dari lagu Pop Rock, Make Over, dari kantung album Stripped dengan musik Hip-Hop/R&B masa kini A la Rihanna dan Nicki Minaj. F*ck All The Haters Cause Xtina Got More Money She Can Fold Up Or Y’all Simply Spin Around In Circles On Her Middle Finger. Hahahaha.. Superfun! Circles kembali mengingatkan pendengar bahwa inilah Christina Aguilera yang emosional kini tampil dalam format emosi yang lebih terkontrol, elegan dan lebih santai.

Best of Me

Satu lagi lagu yang ditulis Christina Aguilera yang mungkin berdasarkan pengalaman pribadinya. Ia menuliskan bahwa Ia hanya manusia biasa yang bisa juga melemah dan rapuh tetapi sekuat tenaga Ia akan bangkit karena tak ada satu orang pun yang bisa membuatnya menyerah. Dalam lagu ini Christina kembali memberikan suntikan semangat bagi pendengarnya yang tersakiti untuk terus percaya bahwa ada kekuatan dalam diri setiap orang yang terbaik dan tak bisa tersentuh siapapun. Ya, lagu ini memang jadi terdengar klise dan membosankan ditengah setumpuk lagu – lagu Aguilera yang bertema sama. Best of Me ini agaknya seperti bagian kedua dari Cease Fire tetapi dengan balutan instrumen yang lebih minimalis dan lebih akustik.

Just A Fool (Featuring Blake Shelton)

Just A Fool adalah sebuah Ballad yang mengawinkan Country, Blues, dan Pop Rock dengan harmonis. Karena diproduseri oleh Claude Kelly maka tidak aneh jika ada nuansa Claude Kelly di lagu ini ditambah Chorus yang sangat Easy-Listening A la lagu – lagu Linda Perry dipertegas dengan lengkingan Christina Aguilera diimbangi dengan rasa Country dari vokal Blake Shelton yang merupakan rekan Xtina sebagai juri dalam The Voice.  Lagu ini adalah lagu patah hati yang dengan mudah bisa direlasikan dengan kehidupan siapa saja yang pernah atau sedang mengalaminya. Tak sabar rasanya suatu saat nanti bisa melihat klip musik Aguilera dan Blake Shelton menyanyikan lagu ini. Exactly One of My Favorite Track From The Album.

Light Up The Sky

Untuk versi Deluxe Edition, Lotus menambahkan tiga buah lagu baru dan sebuah lagu Remix dari Your Body. Light Up The Sky adalah pembukanya, cukup menjanjikan di bagian Verse dan Pre-Chorus yang bertransisi dari Pop Ballad dengan aura 80-an menuju R&B A la Rihanna. Sayangnya ketika sampai pada bagian Chorus rasanya terlalu riuh dengan Beat Drum A la Ryan Tedder. Meskipun terdengar berisik di Chorus-nya lagu ini tetap menjadi lagu cinta yang cukup menarik untuk disimak dengan lirik yang menyentuh. Tidak melulu cinta bersama pasangan tetapi juga lagu ini bisa diaplikasikan dalam hubungan persahabatan.

Empty Words

Lagi – lagi lagu dengan tema Self-Empowering. Membosankan? Mungkin iya karena dalam album ini terlalu banyak berceramah untuk menjadi manusia lebih baik, berbagi cinta, bagaimana memotivasi diri untuk bangkit dari keterpurukan, dan menjadi tak peduli dengan kata – kata jelek orang yang berusaha menjatuhkan kita. Empty Words lagi – lagi bukan lagu jelek tetapi hanya membosankan. Saya yakin akan ada segelintir yang menyukai lagu ini khususnya mereka yang menyukai lagu Pop dengan lirik yang bagus. Lagu ini sangat Pop sekali bahkan di bagian Chorus saya seperti mendengarkan lagu – lagu Boyband tahun 90-an.

Shut Up

Saya langsung jatuh cinta pada saat mendengarkan lagu ini pertama kali. Lagu ini memiliki rasa yang ceria, menyenangkan, dan santai seperti halnya Red Hot Kinda Love dan Circles tapi tidak menjadi sebuah karya yang generik. Shut Up dibalut dengan nuansa 90-an yang sangat kental dari Beat Hip-Hop hingga pengaruh Alternative Pop di  Chorus-nya yang adiktif itu. Mungkin lagu ini seperti Can’t Hold Us Down dari album Stripped yang mengkonfrontir kaum lelaki menyebalkan atau Haters yang hanya berbicara tanpa arti. Apapun itu Christina Aguilera dengan riang gembira menunjukan kesombongannya (seperti dalam lagu – lagu Vanity di album Bionic, Which I really like) And She Told All The Haters to Shut The F*ck Up And Kiss Her *ss Cause She Don’t Give A Sh*t. Definitely The Best Song And My Most Favorite Song From The Album!

Wacana Lotus sebagai album yang bisa disandingkan dan disejajarkan dengan Stripped memang jauh dari kenyataan karena Lotus bukanlah Stripped. Meskipun memiliki konsep yang sama, Lotus masih kurang Soul-nya dibandingkan dengan Stripped yang kaya Genre dan kaya akan cerita dalam lagu – lagunya. Bagi saya memang betul Lotus adalah penerus Stripped tapi bukan album yang bisa dikultuskan seperti Stripped. Lotus seperti versi lebih baik secara konsep dan pemilihan lagu dibandingkan Bionic yang memang agak berantakan meskipun secara musikalitas Bionic memiliki nilai plus. Secara konsep, isi lagu, dan lirik – lirik yang terdapat dalam Lotus ini memang istimewa dan Christina Aguilera telah berhasil memperkenalkan sosoknya yang baru sebagai wanita dalam level yang lebih tinggi secara ideology dan emosi. Secara musikalitas Lotus terlalu bermain di zona nyaman, terlalu Pop dan membosankan tapi hal ini wajar saja dilakukan karena Christina Aguilera pasti harus menekan egonya dalam bermusik untuk sedikit memperhatikan selera pasar agar albumnya tidak jeblok karena ini industri jadi harus sedikit berpikir soal komersialitas. Well, dengan segala kelebihan dan kekurangannya Lotus tetaplah sebuah album Pop yang bagus dengan lagu – lagu yang Radio-Friendly dan Chart-Friendly tapi tak cukup bagus untuk menjadi album yang bisa dikenang sepanjang masa. Semoga suatu saat Christina Aguilera bisa kembali bekerjasama dengan Scott Storch, Linda Perry, dan Sia Furler untuk menghasilkan album yang pasti akan memuaskan. Saya rindu dengan Christina Aguilera yang tidak menyanyikan sekedar Pop belaka tetapi mampu memanfaatkan vokalnya yang lebih cocok menyanyikan lagu – lagu yang Soulful dan sedikit unsur Rock dilengkapi dengan lirik – lirik yang jujur dan menyentuh.

Album Score (3,5/5)

©writtenbyrioaditomo131112

19 thoughts on “Music Review: Lotus Deluxe Edition – Christina Aguilera

  1. Love the review. Keren banget reviewnya. Xtina di album ini ternyata menggandeng rekan rekan juri the voicenya: CeeLo dan Shelton. Cari albumnya ah😀

    1. Thank you Way for visiting my Blog. Yeah, you got a good point in there. But I think releasing Let There Be Love just as useless as Your Body cause there are bunch of songs with the same formula like Let There Be Love out there in the chart. Xtina would sinking in with that song. I guess Blank Page or Just A Fool might work better for the sales. IMHO. Well, we’re fighting for Xtina!😀

      1. Well I don’t know, but I hear “Blank Page” is no where close to “Beautiful”, it is probably in the level of “Hurt”..
        Anyway, that’s just my opinion.. Semoga Xtina dan labelnya bisa menentukan strategi terbaik buat Lotus..
        And we’ll keep on fighting for Xtina ^_^
        SK

  2. maaf mau tanya.. gimana Anda mendengarkan keseluruhan album? Apakah membeli via iTunes? atau illegal download? Sekali maaf, jika sekiranya illegal download, kurang tepat rasanya bila Anda menulis review sebuah album.. terimakasih

    1. Terima kasih Mas Djoe sudah mampir di Blog saya..

      Saya tidak munafik memang saya mendengar Lotus dari hasil unduh ilegal jauh sebelum perilisan resminya tapi bukan berarti saya tidak akan membeli CD fisiknya karena saya sejak 2000 sudah mengoleksi kaset dan CD Christina Aguilera.

      Untuk permasalahan tepat atau tidaknya saya mengulas sebuah album tentu saja seharusnya dinilai dari kelayakan hasil tulisan saya, disini anda mengkritisi hal lain yang tidak bersangkutan dengan karya tulis saya.

      Perlu anda ketahui banyak penulis Blog (bahkan di luar negeri) yang saya tahu juga mengulas sebuah objek (musik atau film) dari sumber unduh ilegal tetapi apakah mereka jadi tidak kompeten dalam hal menulis? tentu tidak karena tidak ada korelasinya sama sekali antara sumber objek yang diulas dengan hasil karya tulisnya. Perlu diingat Blog saya pun tidak semuanya hasil unduh ilegal saya juga membeli beberapa CD untuk koleksi saya yang tak perlu saya jabarkan disini. Toh dalam setiap Post TIDAK PERNAH SEKALIPUN saya menyertakan tautan untuk mengunduh ilegal pada pembaca saya dan Lotus saya Publish setelah albumnya resmi dirilis bukan sebelum albumnya dirilis.

      Blog saya ini skala kecil dengan sifat Non-Profit, saya tidak mendapatkan keuntungan materil sepeserpun dari karya tulis saya. Jika seandainya saya harus membeli semua CD lalu baru diperkenankan menulis ulasannya maka itu adalah sebuah hal yang konyol karena penulis di media besar pun tidak membeli CD kemudian menuliskannya, mereka mendapatkan Sample untuk ditelaah. Sekali lagi saya menulis bukan untuk tujuan komersil dan tidak sekalipun mempersuasi pembaca saya untuk unduh ilegal.

      Sejak kecil saya sudah terbiasa membeli kaset dan CD Original tetapi saya akui semakin saya bertambah besar semakin banyak pertimbangan yang saya harus pikirkan termasuk faktor ekonomi dan skala prioritas dalam hal pembelanjaan uang maka saya jadi selektif membeli apalagi CD dalam artian lebih bijak dalam membeli. Mohon dimengerti sebelum menghakimi seseorang dan kemudian memvonis. Trims🙂

  3. @satrio tapi coba kita melongok terlebih dahulu arti sebuah review. Review itu sebuah ulasan atau sebuah telaah tentang suatu produk. Entah itu musik, film, peranti elektronik, ataupun produk seperti piece of hard work.
    Untuk mengulas atau me-review sebuah produk, idealnya seorang pe-review, harus menikmati atau mencoba sebuah produk dalam standar yang diterapkan atas produk tersebut.

    Itulah sebabnya para produsen menyediakan waktu dan tempat khusus untuk para pe-review. Semisal early screening di film, product tests di elektronik ataupun memberikan cd berisi lagu-lagu. Tujuannya adalah para pe-review bisa mengulas sebuah produk berdasarkan standar yang diterapkan.

    Sekarang kita bicara masalah unduh ilegal. Namanya produk ilegal, tentunya secara standar produk tidak akan menyamai produk aslinya.

    Sedangkan dalam hal musik, seorang pe-review haruslah mendengarkan seluruh aspek teknis dan non-teknis sebuah single secara komprehensif. Apakah sebuah single ilegal bisa dijamin menawarkan beat drum atau detail desibel sama dengan produk aslinya?

    review itu juga masalah tanggung jawab moral. sejauh mana seorang pe-review bisa menelaah dan mempertanggungjawabkan hasil telaahnya terhadap suatu produk . Karena pada akhirnya, hasil tulisan sebuah review bisa mempengaruhi keputusan calon konsumen apakah akan membeli atau tidak.
    Nah, bila seorang pe-review tidak mencantumkan bagaimana ia menikmati sebuah produk yang diulasnya, apakah itu artinya bisa dipertanggungjawabkan?

    Saya tidak mencoba menghakimi Anda atau apapun itu. Tapi kini saya banyak melihat kecenderungan para blogger, bahkan media besar, tidak mengindahkan etika dalam me-review.
    Saya selalu menghormati para bloggers karena mereka independen dalam soal tulisan. Tapi, kecenderungan menulis review dari materi ilegal, menurut saya sama saja mendukung kegiatan unduh ilegal.

    Dan itu amat disayangkan.

    Saya menghormati Anda juga. Itu sebabnya saya merasa perlu untuk meluruskan dan mengembalikan esensi sebuah review.

    Salam

    1. Hi Djoe, salam kenal..

      Saya suka semangat anti piracy anda!! Tapi anda kenapa mencecar pe-reviewnya yah? Agaknya kurang tepat juga sih soalnya kan ga cuma pe-review blog ini yg melakukan unduh ilegal. Ditambah apakah orang-orang di sekeliling anda sudah bersih dari sistem ilegal ini? Sepertinya memang sulit diwujudkan karena banyak faktor yang mempengaruhi, contohnya kemampuan finansial dan kesadaran seseorg ttg arti penghargaan kpd suatu piece of art jg sudah pst berbeda. Ada yang mampu tp ttp ttp unduh scr ilegal tp ada jg yg meskipun biasa-biasa saja tp menyanggupi utk membeli scr resmi. Ini kan imbas dari kemajuan teknologi jg jd apa yg mudah itu yg dilakukan, masalah legal atau ilegal masalah belakangan hanya segelintir saja salah satunya mas Djoe yg sadar akan pentingnya legalotas suatu produk (bkn cuma sekedar beropini).

      Untuk permasalahan teknis dan non teknisnya kan blog ini memang non komersil dan bersifat amatir bukan taraf profesional yang memang harus memperhatikan sisi teknis dan non teknis scr spesifik. Kecuali latar belakang penulis ada reviewer profesional maka anda sangat berhak mencecar dgn perihal unduh ilegal tersebut. Review ini dibuat sesederhana mungkin agar dapat dibaca dengan mudah untuk sebagian org yg mgkn msh awam sebagai pendengar musik. Jadi mnrt sy org awam tidak akan mempermasalahkan masalah beat drum atau detail desibelnya (terlalu teknis). Untuk masalah pertanggungjawaban penulis sepertinya terlalu naif kalo memutuskan beli CD ato ngga cm berdasarkan review/opini penulis yg non komersil dan mgkn mereview dgn materi ilegal.

      Terimakasih karena sudah membangkitkan semangat anti piracy dengan baik dan semoga makin banyak org yg bisa lebih menghargai juga sadar akan hasil kerja keras org lain dgn baik. Mungkin anda bisa membantu penulis untuk membeli secara resmi?😀 (just joke)

    2. @rioaditomo: saya setuju jawabannya fighters sejati sekali. Saya menghargai tulisan anda doesn’t matter where it come from,karena menulis bukan perkara mudah juga. And by the way saya fans berat aguilera sejak pertama x dengar single genie in a bottle, makanya saya mencoba ikut comment di sini.
      @Djoe: saya kecewa sekali baca comment anda seperti orang yg ga pernah makan bangku kuliah saja. Mahasiswa ga ada yg buat paper sampai harus beli buku keluaran harvard university yg harganya ratusan ribu itu, jaman sekarang serba dimudahkan dengan mbah google. Kalau mau idealis liat tempat donk.

      1. Halo Tika terima kasih yah sudah mampir di Blog saya. Terima kasih juga saya harus banyak belajar dalam hal menulis. Salam kenal. Salam Fighters!

    3. Terima kasih Mas Djoe atas ilmunya tapi yang saya lihat dari komentar anda justru sepertinya semakin menyudutkan saya dan dengan kesan yang tersirat anda menyampaikan bahwa saya tidak pantas menulis Review karena beberapa berasal dari Source Illegal. Kalau memang begitu berarti segelintir Blogger yang lainnya juga harus berhenti nge-Blog juga karena bukan cuma saya yang pakai Source Illegal, Blog lainnya dengan Page View jutaan pun menggunakan film hasil unduh.

      Perlu diingat Blog saya ini bukan media besar jadi kontrol sosialnya pun tidak tinggi seperti media lainnya layaknya Boleh.com, Detik.com, KapanLagi.com, dll. Jadi disini bukan tempatnya anda menjadi Preachy kecuali memang tujuan anda adalah menjatuhkan saya dan ingin terlihat amat sangat cerdas karena anda penulis Review yang hebat.

      Sekali lagi saya berterima kasih atas ilmu Review yang seharusnya jika boleh ditambahkan saya ingin anda lebih mengkritisi tulisan saya bukan Source Objek downloadnya. Saya yakin anda sebagai penulis hebat dan memiliki kredibilitas yang tinggi pasti lebih bisa menilai teknis menulis daripada sekedar menghakimi saya dan sejumlah Blogger lainnya. Ketika Blog saya satu level dengan Pitchfork atau Billboard tentu jasa ilmu anda akan saya kenang terus.🙂

  4. @Djoe : Klo mnrt anda hal yg dilakukan penulis tidak tepat dan blablabla..knp anda ga berusaha memfasilitasi penulis? Jgn nato deh..no action talk only.. Hari gini mending mikir 2 x deh kl cuma bisa ngomong tp ga bisa ngasi solusi real.. Jgn saling menjatuhkan apalagi dgn argumen2 yg ga disesuaikan sm kondisi orla.

  5. Gw rasa ini bisa dibilang Stripped 2.0, tapi memang ga sefenomenal Stripped. Just A Fool salah satu lagu yang paling mantap di album ini. Gw tetep yakin album ini bakal suskses dipasaran kaya Stripped.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s