Movie Review: 5cm. & Habibie & Ainun (2012)


Habibie & Ainun_5cm._Header

Bisa dibilang saya adalah orang yang paling ketinggalan Euphoria dua buah film Indonesia terlaris yang dirilis akhir tahun 2012 lalu, 5cm. dan Habibie & Ainun. Alasannya jelas karena di kota saya tidak ada bioskop (Sigh) tetapi akhirnya setelah mendaki gunung dan melewati lembah, saya bisa juga menjadi bagian dari jutaan pasang mata yang menyaksikan dua film yang menghembuskan udara segar di perfilman Indonesia ini. Antusiasme penonton sungguh luar biasa untuk kedua film ini terbukti disaat saya menonton kedua film yang sudah tayang lebih dari dua pekan ini masih menyisakan antrian yang cukup hebat di bioskop padahal bukan di akhir pekan. Berikut adalah ulasan 5cm. dan Habibie & Ainun dari kacamata seorang Rioaditomo.

The Plot:

5cm_1

5cm.
(Soraya Intercine Films | Directed by Rizal Mantovani | Herjunot Ali, Fedi Nuril, Pevita Pearce, Igor ‘Saykoji’, Raline Shah, & Denny Sumargo)

Adalah Zafran (Herjunot Ali) yang memperkenalkan para penonton kepada empat sahabatnya sejak 10 tahun terakhir: Arial (Denny Sumargo), Ian (Igor ‘Saykoji’), Genta (Fedi Nuril), dan Riani (Raline Shah). Persahabatan anak muda metropolitan ini dirasa cukup membosankan sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk rehat selama tiga bulan dan kembali berkumpul di suatu tempat yang akan mengembalikan semangat persahabatan mereka juga membawa warna baru dalam kultur kehidupan Urban mereka selama ini.

Habibie & Ainun_1

Habibie & Ainun
(MD Pictures | Directed by Faozan Rizal | Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, Hanung Bramantyo, Mike Lucock, & Tio Pakusadewo)

Faozan Rizal selaku sutradara mengajak kita menengok kumpulan pigura cantik kehidupan rumah tangga penuh keajaiban cinta dari pasangan Bacharuddin Jusuf Habibie (Reza Rahadian) dan Hasri Ainun Besari (Bunga Citra Lestari). Film yang disadur dari buku Habibie & Ainun yang ditulis berdasarkan kisah nyata ini mencakup cerita masa – masa sekolah Habibie dan Ainun sampai akhirnya mereka menikah dan mengarungi banyak kisah kehidupan termasuk saat Bapak Habibie mengemban tugas sebagai pemimpin Negara tercinta, Indonesia.

The Movie:

5cm_2

5cm.

Setelah mulai jengah dengan karya Rizal Mantovani yang akhir – akhir ini terasa mengecewakan akhirnya saya cuek ketika mengetahui ada film baru yang Ia garap padahal dulu setiap ada film yang Ia sutradarai saya selalu Excited dan harus nonton. Mengetahui 5cm. mendapat sambutan luar biasa dan menembus lebih dari satu juta penonton pun tidak membuat saya tergesa – gesa untuk ingin segera menonton karena mendapat sambutan hangat dan penonton yang membludak bukan hal baru bagi beliau. Ketika akhirnya saya memutuskan untuk menonton 5cm. saya masih juga tidak memiliki ekspektasi sama sekali karena saya sudah siap dengan sinematografi khas Rizal Mantovani dilengkapi dengan Tone cerah ceria yang Over-Contrast.  Ternyata Rizal Mantovani mampu membungkam saya selama dua jam durasi film ini karena banyak paparan gambar yang begitu berbeda Feel-nya dari film – film beliau sebelumnya yang ternyata hal tersebut dipengaruhi tata sinematografi yang ditangani oleh Yudi Datau bukan oleh Rizal Mantovani langsung. Tone yang dihadirkan begitu indah tidak terlalu kontras dan warna – warnanya ditampilkan dengan amat cantik. Setiap Frame mampu memanjakan mata apalagi adegan – adegan di Semeru.

Dari sisi sinematografi 5cm. sungguh sangat indah namun dari sisi penyutradaraan tetap saja Rizal Mantovani banyak kedodoran dalam mengeksekusi kisah yang diambil dari buku laris karya Donny Dhirgantoro ini. Entah apakah hal ini disebabkan naskah yang ditulis Donny banyak menghadirkan Plot Hole karena penyuntingan dari media buku ke film atau memang Rizal Mantovani kurang jeli memikirkan eksekusi yang tepat untuk film ini. Bagian awal memang terasa menyenangkan tetapi menurut saya cukup semu karena terlalu panjang dan bertele – tele menceritakan watak tokoh – tokohnya tanpa memikirkan sebenarnya banyak hal lain yang mungkin bisa diungkap di awal sehingga tidak membuat bertanya – tanya ketika pada akhirnya banyak hal yang membingungkan di akhir film ini. Tengok saja betapa buang – buang waktunya Rizal men-Shoot tokoh Zafran yang berjibaku soal GStrings. Secara jalan cerita bagi yang tidak membaca bukunya pasti akan kebingungan ketika banyak hal yang ingin diraih oleh film ini tetapi tidak dibangun dengan baik sejak awal film. Yang saya tahu dari awal 5cm. ini adalah kisah kehidupan persahabatan anak muda tetapi entah mengapa jadi melebar ke isu nasionalisme di paruh akhirnya. Semua jadi kabur dan membingungkan bagi penonton macam saya yang tidak membaca bukunya terlebih dahulu.

Penataan teknis yang baik tentu saja adalah nilai paling tinggi untuk film ini karena selain cerita yang kedodoran ternyata departemen akting pun tidak menunjukan sebuah keistimewaan tersendiri. Memang setiap pemain pendukung film ini mampu berakting dengan baik dan mempresentasikan tokoh yang diperankan dengan tepat tetapi tidak ada yang begitu Stand Out kecuali Igor yang menjadi Stellar sepanjang film dan mungkin adalah tokoh yang paling Loveable. Penampilan komedi dari masing – masing tokoh sebenarnya cukup bagus tetapi banyak skrip yang maksudnya lucu tetapi jadi garing. Tak lengkap rasanya jika film – film Rizal Mantovani tidak menampilkan gadis – gadis cantik, berdarah Indo, dalam balutan gambar yang mencengangkan. Dalam 5cm. ini ada Pevita Pearce yang mungkin akan menjadi The Next Tamara Bleszynski atau Julie Estelle. Rizal Mantovani dengan cerdas meng­-Capture keindahan duniawi yang hadir dari pesona Pevita Pearce sebagai ciptaan Tuhan yang begitu sempurna diiringi dramatisasi lagu Sudah dari Ahmad Band dan adegan Slow-Motion.

Kesimpulannya, dibalik segala kelemahan – kelemahan dan pertanyaan – pertanyaan serta dialog baku yang mengganggu sepanjang film ini secara keseluruhan menurut saya 5cm. sangat menghibur. 5cm. mampu menginspirasi anak – anak remaja dalam hal persahabatan, cinta, dan tentu saja nasionalisme. Film ini menjadi momentum terbaik kembalinya sutradara favorit saya Rizal Mantovani. Semoga film – film beliau selanjutnya di-Treat dengan sinematografi dan Tone yang seperti ini, keluar dari ciri khasnya yang sudah cukup membosankan.

Habibie & Ainun_2

Habibie & Ainun

Selain menjadi bingkisan mewah untuk prasasti cinta Bapak Habibie dan Ibu Ainun yang luar biasa tentu saja film Habibie & Ainun merupakan karya yang mampu menginspirasi generasi masa kini dari berbagai lini termasuk teladan bagi pasangan suami istri untuk memahami bagaimana sebaik – baiknya peran yang harus dilakoni sebagai suami maupun isteri yang baik di masa yang rentan dengan problemantika perceraian ini tanpa sedikit pun terasa menggurui (In My Humble Opinion). Selama menikmati Frame demi Frame film ini saya benar – benar terhipnotis dalam jalinan kisah yang begitu menyentuh, mungkin karena saya berzodiak Pisces (yang biasanya sensitif) jadi banyak adegan yang mampu membuat mata saya berkaca – kaca dan hampir berlinang jika saja saya tidak ‘tengsin’ untuk meneteskan air mata di studio bioskop.

Performa akting yang brilian dari Reza Rahadian mampu memberikan nilai Plus untuk film ini karena bukanlah perkara mudah memerankan tokoh yang ada di kehidupan nyata, dikenal banyak orang, dan memiliki karakteristik yang begitu kuat. Reza Rahadian mengeksplorasi kemampuannya berakting sehingga mencapai titik maksimal untuk menciptakan setiap gestur, bahasa tubuh, dan olah vokalnya yang begitu menyerupai tokoh Bapak Habibie. Tidak hanya Reza Rahadian yang mampu masuk dalam jiwa Bapak Habibie, Bunga Citra Lestari juga mampu berakting dengan tak kalah baiknya sebagai sosok Ibu Hasri Ainun yang berkharisma, bersahaja, dan tegar. Ikatan Chemistry kedua bintang utama film ini mampu menghasilkan berbagai adegan – adegan penuh emosi yang mengharu biru sekaligus penuh cinta. Faozan Rizal yang didapuk untuk duduk di kursi sutradara pun mampu mengeksekusi Habibie & Ainun dengan cukup baik apalagi jika mengingat ini adalah karya perdananya sebagai sutradara. Dari sisi sinematografi sebenarnya sudah cukup baik ditangani oleh Ipung Rachmat Syaiful namun saya merasa banyak AngleAngle dan komposisi gambar yang mungkin bisa dimaksimalkan apalagi untuk adegan – adegan yang berlokasi di Jerman. Penata busana bekerja sangat baik menciptakan suasana yang begitu Retro lewat pakaian – pakaian Classy yang dikenakan BCL dalam film ini.

Kisah yang menakjubkan, kualitas akting yang mumpuni dari jajaran pemain utama maupun pendukung dalam film ini, penyutradaraan yang cukup baik, serta sinematografi yang cukup indah sayangnya tidak didukung dengan tata rias yang sesuai karena riasan tokoh Habibie dan Ainun di masa tua sungguh tidak terasa, hanya pada adegan tertentu yang terlihat sedikit meyakinkan. Tak ada riasan lengkap dengan kerutan – kerutan di wajah dan tangan untuk memberi efek tua di paruh akhir film ini. Yang paling mengganggu adalah Product Placement dari sponsor yang cukup banyak menghiasi layar dan amat sangat menyebalkan karena merusak Timeline dalam film ini. Kalau saja makanan ringan, kartu Tol, sirup, dan kosmetika yang bertebaran tersebut tidak terang – terangan disisipkan sebagai bentuk promosi dan tidak mengganggu urutan waktu dalam film ini mungkin kesalahan tersebut bisa dimaklumi. Meskipun begitu, Overall Habibie & Ainun tetaplah sebuah film yang bagus karena mampu menyajikan tontonan yang menghibur, mengedukasi, memberi inspirasi dan teladan yang baik untuk penontonnya. Tentu saja Habibie & Ainun juga merupakan karya yang menjadi bukti nyata dari keteguhan dan kesetiaan cinta dari pasangan yang luar biasa yang mungkin jarang ditemui di kehidupan masa kini.

The Soundtrack

5cm_3

Habibie & Ainun

Bunga Citra Lestari menyenandungkan kisah cinta sejati antara Habibie dan Ainun dalam balutan orkestrasi dan notasi yang melankolis karya Melly Goeslaw. Tak ada yang cukup istimewa dalam lagu ini, semuanya sesuai ekspektasi ketika tahu bahwa lagu ini akan digubah dan digarap Melly Goeslaw dan Anto Hoed. Secara vokal terasa kematangan yang cukup jelas dari Timbre Bunga Citra Lestari yang unik. BCL mampu bermain dengan dinamika dan harmonisasi vokalnya sehingga memberikan emosi dan jiwa pada lagu ini yang menghasilkan melankolia yang mendalam. Lirik yang ditulis Melly Goeslaw patut diacungi jempol meskipun sebenarnya bukan barang baru bagi Melly menuliskan lagu cinta.

Habibie & Ainun_3

5cm.

Selain gambar – gambar menakjubkan, Rizal Mantovani membekali film 5cm. dengan lagu – lagu tema yang begitu memukau karya grup Band Nidji. Giring dan kawan – kawan mengemas tiga buah lagu eksklusif untuk film 5cm. dan semuanya memiliki kualitas yang begitu baik. Di Atas Awan, Rahasia Hati, dan Tak Akan Pernah Mati menghiasi beberapa adegan dalam film 5cm. dan berhasil memberi jiwa pada setiap adegan tersebut. Dengan lagu – lagu tema ini Nidji semakin mantap menasbihkan mereka sebagai Band papan atas di ranah Mainstream yang memiliki ideologi bermusik Pop yang tidak Cheesy dan ‘Alay’. Di Atas Awan merupakan karya yang begitu menyenangkan, Anthemic, dan sekaligus Ear-Catching dibalut dalam sentuhan instrumental yang matang.

The Quote

5cm_4

5cm.

“Mimpi – mimpi kamu, cita – cita kamu, keyakinan kamu, dan apa yang mau kamu kejar, biarkan ia menggantung, mengambang “5 cm” di depan kening kamu.”
Zafran (Herjunot Ali)

Habibie & Ainun_4

Habibie & Ainun

“Kita ini seperti gerbong yang masuk ke dalam sebuah terowongan panjang dan gelap tetapi terowongan itu pasti berakhir menuju sebuah cahaya dan saya berjanji akan membawamu ke cahaya itu.”
Habibie (Reza Rahadian)

The Trailer

5cm.

Habibie & Ainun

Final Scores

5cm.

Movie (3/5)

Soundtrack (4/5)

Habibie & Ainun

Movie (3,5/5)

Soundtrack (3/5)

4 thoughts on “Movie Review: 5cm. & Habibie & Ainun (2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s